Selendang Pelangi, III (Sebuah Roman)

  • Whatsapp
Ilustrasi Selendang Pelang. Foto: Ibiroma Wamla
Ilustrasi Selendang Pelang. Foto: Ibiroma Wamla

Oleh; Dewi Linggasari

KETIGA

Bacaan Lainnya

banner 400x130

Jarak dan perbedaan saling  mencengkeram dengan jemari waktu, berkuasa mengubah segala sesuatu tanpa kenal ampun. Hukum alam berlaku sebagai penterjemah untuk membahasakan ketetapan ketika hari harus berganti, minggu berjalan, bulan beredar, dan tahunpun berganti. Kerinduan seperti halnya tajam mata kelewang yang dapat menjadi senjata pelindung diri sekaligus melukai. Ah! Orin pemuda itu, mahasiswa itu melampaui hari-hari yang asing dan sendu. Ia tak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri  di tempat belajar yang baru, demikian pula dengan tempat tinggal yang baru, asrama mahasiswa Maluku yang hanya berpenghuni mahasiswa  dari Maluku. Surat-surat dari Betani terus mengalir dari bulan ke bulan, dan lembar-lembar kertas itu adalah satu-satunya hiburan. Demikian pula ketika tahun berganti dan Orin hampir dapat menguasai seluruh seluk beluk kota ini. Surat dari Betani seakan daya yang berperan menggerakkan seluruh otot tubuh, sehingga ia dapat menempuh semester demi semester dengan sebuah dorongan kuat. Bahwa suatu saat ia akan meraih gelar sarjana kemudian memapas perempuan impiannya. Adakah yang lebih indah dari pada menjadi bagian syah dari kehidupan wanita yang dicintai?

Hari itu kilatan petir tampak sebagai langit retak, angin mendesis, mendung seakan selimut hitam yang gelap membentang, sesaat para bidadari maya tersedu mengucurkan hujan. Butiran air bening ramai tertumpah bagai ribuan kristal yang terjungkal bergerak mengikuti gravitasi, tercurah dan luruh ke bumi, menghantam di tanah basah. Jalanan tergenang, pepohonan meraung ditikam angin yang menderu, bunga-bunga terkulai, dedaunan gugur tergolek di atas tanah, ranting-ranting berserakan, merintih berkepanjangan.

Orin berjalan tergesa menjemput tukang pos yang datang dengan suara khas dari deru knal pot yang menyentak seluruh penghuni asrama. Abdi negara itu mengenakan jas hujan supaya dapat meneruskan pesan dari satu tempat ke tempat lain, termasuk pesan dari Betani di Manado yang ditujukan via jasa pos kepada Orin di Makasar. Pemuda itu tahu hari ini surat Betani tiba, ia akan membaca, menghapal seluruh isinya kemudian menyimpannya pada sebuah tempat yang paling pribadi dan membelainya dengan minyak wangi. Mata pemuda itu seketika berbinar ketika menerima sampul berwarna biru laut dengan nama lengkap tercantum, Orin sangat mengenal goresan tangan Betani. Surat itu berstempel Manado, kota tempat Betani belajar, sampai suatu saat ia akan dapat menggapainya kembali.

Sesaat kemudian terdengar suarai ramai bersuit dari penghuni asrama yang telah mengenal perangai Orin, pemuda itu sungguh-sungguh telah jatuh cinta denga tangan yang tak henti melayangkan goresan pena. Beberapa gadis memang nyata-nyata mendekati Orin, mereka tampak akrab, tetapi Orin yakin, bahwa keakraban itu tak mampu menggugurkan rindu akan keberadaan Betani. Wajah gadis itu telah mengendap di dasar hati. Seisi asrama telah mengenal tentang seorang gadis bernama Betani.

Hujan masih turun sebagai bola-bola kristal yang terkulai kemudian memecah tanpa bentuk dengan jeritan yang  sendu menghujam di atas genting. Angin melolong menyelinap di antara kisi-kisi jendela, menghembuskan udara beku. Sesaat Orin tertegun, ia menangkap gelagat aneh pada sampul surat yang dipegang, isi sampul itu pasti tebal seperti kertas yang dicetak sebagai ucapan pada hari-hari besar atau hari istimewa. Akan tetapi, tak ada hari besar atau istimewa yang berdekatan dengan hari ini, Valentine telah berlalu tanpa sepatah kata dari Betani, hari yang basah kuyup oleh curahan hujan dari langit.

Ketika akhirnya ia dapat membuka isinya, Orin terhenyak, Betani tak menuliskan apapun kecuali sederet puisi:

perjalanan ini terlepas dari stasion waktu yang hening dan ragu

bahkan seseorang tak dapat tahu di mana akhirnya

hari demi hari gugur seakan tanda tanya

kalaulah harapan pernah ada

maka yang tersisa kini hanyalah

jejak kaki yang tertinggal semakin jauh

semakin jauh….

Manado,  Maret 1990

Orin membolak balik kertas itu berulang kali, ia diterkam keheranan yang amat sangat, ia setengah geli setengah dungu. Ia mahasiswa ekonomi tahun ke empat yang tengah bersiap menyusun skripsi untuk meraih geral SE, kini tiba-tiba ditawari kutipan karya sastra yang tak pernah sekalipun menarik mintanya. Kecuali kuliah –terbanam dalam setumpuk buku–kegemarannya adalah bermain dan tentu saja mengikuti setiap pertandingan sepak bola. Apa maksud puisi ini?

Akan tetapi, Orin tidak dungu-dungu terlalu, ia menangkap nada kesedihan dan ketiadaan akan harapan dalam baris yang amat sederhana, yang nyaris tak pernah dipelajarinya. Apa yang terjadi pada gadis itu?  Orin mulai terganjal dengan risau yang menyesakkan. Sejak malam perpisahan itu ia tak pernah bersua dengan Betani kecuali di dalam mimpi, surat-surat yang digores huruf indah dan memberinya dorongan untuk segera menyelesaikan kuliah kemudian memunguti kembali kepingan mimpi menjadi hari yang nyata, tetapi puisi itu?

Orin dan Betani selalu berselisih jalan, ketika Orin kembali ke kampung pada libur Idhul Fitri, Betani tak mendapat kesempatan pulang, karena biaya yang cukup mahal dan perjalanan yang sulit. Demikian sebaliknya, ketika Betani kembali ke Halmahera untuk merayakan Natal bersama ayah bunda, maka Orin memilih libur di Makasar. Keduanya saling berkirim kabar via kartu Natal dan kartu Lebaran dengan ditaburi seribu janji dan harapan. Sekarang, masihkah ia pantas berharap?

Orin termangu. Di luar hujan menghantam atap genting lebih lebat dari curah yang terjatuh pada awal mula, langit berulang kali retak oleh letupan kilat yang mengejutkan dan menyilaukan. Mendung membungkam langit dalam selubung hitam yang bergerak bagai makhluk bernyawa. Angin masih mendesis, masih tetap mendesis, menghembuskan suasana beku. Sekejab Orin memejamkan mata, ia merasakan hawa dingin menusuk pori-pori, tembus hingga ke tulang sumsum, tak sadar pemuda itu ketika seluruh badan tiba-tiba menggigil. Hujan seakan tak lagi menghunjam di atas genting, tetapi telah membasahi sekujur tubuhnya, menembus lapisan kulit, tergenang di dasar hati.

***

Dari batas garis pantai, permukaan laut kadang kala tampak lebih tinggi dari kulit bumi, air yang membiru bergerak digulung ombak silih berganti tanpa awal dan akhir. Gelembung yang selalu beralih rupa membentur butiran pasir, memantulkan suara alam membawa pula kepak sayap camar-camar di kejauhan. Hari itu udara cerah, sinar surya yang kuning keemasan menghantar senja temaram yang tampak enggan memapas kegelapan. Langit tembaga menyatu dalam garis laut sebagai benturan batas pandang. Angin memanjakan seisi alam dalam hembusan lembut menyentuh dedaunan dan kelopak bunga yang indah bermekaran.

Dari balik jendela di kamar loteng Betani terpana menyaksikan panorama di depannya, mestinya ia ikut pula melarut dalam cahya senja yang kemilau, tetapi biru laut yang membentang seakan hendak melahap pula seisi daratan tak membuatnya merasa nyaman. Telah hampir dua bulan yang lalu ia melayangkan sepucuk surat, ia tidak tahu dengan bahasa apa mesti bicara, maka Betani hanya dapat menggoreskan sebaris puisi. Terlalu banyak hal yang harus terjadi, ia tidak pernah menggali rencana dengan kedua tangannya, tetapi seperti halnya sebuah skenario maha besar, manusia cuma makhluk kecil yang dititahkan sebagai pelaku, dan ia tak punya pilihan lain kecuali menjalani. Menjalani!

Betani masih menunggu balasan surat dari Orin meski hanya berisi sebaris kata-kata, tetapi ia menunggu kedatangan tukang pos seperti ia memunguti hari-hari yang tanggal, kesal dalam penantian. Surat Orin tak juga muncul, Betani tahu ia akan menghadapi hari-hari yang sulit, ia mengira setelah menjadi seorang mahasiswa, kehidupannya akan menjadi lebih menyenangkan, tetapi siapa sangka. Seorang mahasiswa dinyatakan sebagai manusia dewasa yang tanggap mensikapi segala hal dan persoalan, ia harus rasionil, realistis, dan mampu mengendalikan diri.

Pengendalian diri, hal itu yang sejati dalam proses pencarian manusia, sehingga ia harus melalui proses belajar sebagai mahasiswa. Masalah akan bertimbun saling mengait menjadi seakan jaring laba-laba, seorang manusia dewasa ditantang untuk mencari solusi dan keluar sebagai pemenang atau ia gagal dalam pencapaian. Ia, Betani tak ingin gagal, ia telah menjalani separuh dari proses belajar pada jurusan ilmu politik, sama seperti Orin ia tengah mempersiapkan penulisan skripsi untuk menyelesaikan proses pembelajaran. Betani tak mengalami masalah untuk hal yang satu ini, ia mahasiswa yang cerdas, kuliahnya akan berakhir dengan karya ilmiah yang gemilang, bahkan dosen-dosen yang killerpun menyayanginya. Gadis itu bukan hanya cerdas, kulitnya yang hitam manis bahkan tak kalah menarik bila dibandungkan dengan ngana Manado yang berpenampilan putih bersih seakan kumpulan putri Cina. Ah! Betani, ia tampak seakan mutiara hitam, demikian julukan yang diberikan kawan-kawan di kampus.

Betani menyewa kamar loteng pada sebuah keluarga Maluku yang telah menetap lama di kota ini, tepatnya di wilayah Bahu, di dekat pantai. Sikapnya yang baik membuat ia diperlakukan pula dengan baik oleh sang induk semang. Betani tak sekedar menumpang tinggal, ia bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan di rumah keluarga ini. Ia memiliki kamar yang menyenangkan di lantai atas, dari jendela kamar, setiap hari ia dapat menatap air laut yang membiru dan saat-saat menakjubkan ketika sinar surya semakin memucat dan segera musnah diterkam kegelapan.

Senja ini Betani melakukan kebiasaan seperti semula, duduk menatap laut manakala pikirannya mengambang. Betapa ingin ia mendaur ulang waktu, kembali pada malam perpisahan, bergoncengan dengan Orin di kegelapan kemudian ia melewati saat penuh sensasional ketika dengan tergesa Orin mencium sepasang pipinya. Kalaulah ia bisa mempertautkan kembali jarak yang terentang, tetapi manusia selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit dan ia harus tetap menentukan sikap dengan kepala dingin. Untuk itu ia berusaha keras menuntut ilmu.

Betani teringat pada suasana Natal tahun lalu, ia sangat bahagia kembali bersama keluarga merayakan hari yang dipenuhi kunjungan tamu-tamu, tetapi kebahagiaan itu mendadak terasa ganjil ketika seorang tamu datang pula berkunjung dan kedua orang tuanya menyambut secara istimewa. Ia seorang konsultan  muda yang masih tergolong kerabat jauh Nayla, Betani dapat merasakan betapa santun, dewasa, dan penuh perhatian laki-laki itu. Ia tak memiliki kekurangan apa-apa, kecuali bahwa Betani tak menghendaki kehadirannya, tetapi Betani seorang bocah yang santun. Ia tak banyak membantah ketika Nayla memintanya bergabung untuk makan malam dan berbincang-bincang dengan akrab di meja makan. Laki-laki itu, Lambertus amat pintar membawa diri dan tentu saja mengambil hati. Dalam kunjungan yang berulang kali tak pernah ada pernyataan apapun, tetapi Betani bukan kanak-kanak. Lambert bahkan hampir setiap malam datang berkunjung dengan hadiah kecil yang menyenangkan hati Nayla, semakin hari ibunda bahkan mulai  beranggapan Lambert telah resmi sebagai anak menantu.

Ada kalanya mereka ditinggal hanya berdua, Betani salah tingkah, tetapi Lambert amat mengerti dalam mesikapi gadis belia. Ia bahkan telah jatuh hati terhadap Betani pada pandangan pertama, Lambert telah memenangkan hati orang tuanya, apa susahnya ia dapat merebut pula hati anaknya. Ia mengetahui tentang berbagai cara, ia akan membuat Betani menyerah tanpa paksaan, yang jadi masalah hanya waktu, dan ia akan dapat mengaturnya. Lambert ikut pula mengantar Betani ke bandara ketika gadis itu hendak kembali ke Manado untuk melanjutkan kuliah, setelah itu kartu-kartu ucapan, surat, dan hadiah-hadiah kecil dalam bentuk paket terus mengalir. Kiriman bulanan Betani juga bertambah secara tiba-tiba, gadis itu tak bertanya dari mana sumber penambahan itu, adakah  mahasiswa  yang tidak memerlukan kelebihan uang saku secara berlebihan? Gadis itu dapat membeli beragam buku bacaan, pakaian gaya, dan sepatu yang sedang trendy.

Suatu kali Lambert datang berkunjung ke Manado, laki-laki muda itu tak pernah melepaskan diri dari Betani kecuali saat gadis itu pergi tidur dan kuliah. Perilakunya lebih dari sekedar menunjukkan, bahwa Betani adalah gadis impiannya. Tanpa sepatah katapun Betani tahu, ia telah terjebak ke dalam pusaran arus dan akan semakin sulit melepaskan diri dari cengkeraman. Segala yang harus dimiliki seorang laki-laki telah melekat tanpa jeda pada diri Lambert, laki-laki itu tinggi jangkung dengan kulit yang kelam, garis wajah maskulin, berpendidikan, karir yang cemerlang, mencintai, dan satu iman. Apa lagi?

Betani tak dapat berkelit, ketika Lambert membawanya ke toko buku dan ia bebas memilih segala bacaan yang ia sukai. Demikian pula ketika Lambert memilh gaun malam segelap tinta untuk undangan perjamuan dari rekanan bisnis, Betani menikmati kebersamaan dengan Lambert. Kemudian mereka berjalan-jalan ke Danau Tondano, menyusup di celah-celah angin dingin yang membekukan pori-pori, menghirup udara segar, dan memanjakan mata dengan aneka warna bunga yang bermekaran. Berdua mereka singgah di makam sejarah Pangeran Diponegoro dan  Ratnaningsih yang terletak pada posisi jalan dari Manado ke Tomohon. Mereka pergi ibadah pada hari Minggu bersama-sama dan entah apa lagi, segalanya berlalu dengan cepat.

Apakah Betani tak ingat lagi pada Orin?

Kabar dari Orin datang dalam bentuk selembar kartu Valentine, bersampul merah jambu dengan motif jantung hati yang secara tegas membahasakan kasih sayang. Betani tersentak! Mengapa ia terlupa pada hari yang penting ini? Kartu itu seakan mengejek Betani akan kelalaiannya, apa yang telah ia lakukan ketika Orin setia menunggu? Ia bahkan telah bersenang-senang dengan seorang yang akan membelokkan arah jalan hidup Orin ke suatu tempat yang tidak jelas  dimana akhirnya. Betani menimang-nimang kartu itu berulang kali, ia mengerti mengapa hati manusia dapat tiba-tiba mendua, jarak dan perbedaan dapat merubah segalanya, ia hanya bagian kecil dari perubahan itu. Betani memerlukan waktu berhari-hari untuk menyusun kata-kata sebagai jawaban atas kartu bermotif jantung hati yang dikirimkan Orin. Ia tahu kalimatnya akan membuat Orin menjadi bingung, sama dengan keadaannya.

Betani menunggu balasan, tetapi harapannya hanya tersisa seakan segumpal lembut kapas putih yang mengapung diterbangkan angin kemudian hanyut tanpa arah. Kabar yang ia tunggu justru datang dari kampung setelah skripsinya dinyatakan oleh dosen pembimbing layak untuk diuji. Dahi gadis itu berketur oleh selembar telegram dengan berita singkat:

Nona, segera pulang. Mama dirawat di rumah sakit”

Papa

Saat itu juga Betani seakan ingin terbang mengarungi lautan dan bukit-bukit untuk segera memburu Nayla dan menghambur ke pangkuannya. Gadis itu segera berkemas, ia memesan sit pesawat pada kesempatan pertama, dengan kecemasan yang sangat ia mengapung di udara, menembus lapisan langit dengan air mata setengah tergenang. Sepanjang perjalanan Betani memejamkan mata, ketika roda pesawat mencicit di landasan pacu, mata gadis itu terbuka. Sesaat, setelah ia menginjakkan kaki di kedatangan, Lambert telah menjemputnya. Betani hanya dapat menurut, gadis itu tak banyak berulah, setelah meletakkan kopor kecil di dalam kamar, ia segera bergegas ke rumah sakit, digonceng sepeda motor oleh Lambert.

Nayla tergolek lemah di atas pembaringan. Wajah wanita itu tiba-tiba tampak sanga tua, tua dan letih, tabung infus meneteskan glukosa seakan embun yang menghidupi seonggok tanaman kering. Seluruh tubuh wanita itu mengecil, jauh berbeda dengan saat terakhir ketika ia melepas anak gadisnya pergi menuntut ilmu. Wajah itu sesaat berbinar ketika bertautan dengan jernih sepasang mata Betani, “Mama….” gadis itu terisak, hatinya teriris melihat keadaan ibunda, sungguh ia akan melakukan apa saja demi kesembuhan Nayla, termasuk apa bila ia harus mengorbankan nyawa.

“Nona, senang sekali engkau segera datang. Engkau tampak cantik anakku”, suara Nayla lemah, namun cukup memberi penghiburan bagi Betani, wanita itu masih memiliki sisa kekuatan, ia merasakan kecupan lembut pada pipinya yang kering. Lelah hati membesarkan anak kini terbayar dengan kehadiran sosok seorang gadis yang telah dewasa, gadis itu masih akan mengarungi kehidupan untuk jangka waktu yang amat panjang. Untuk itu, ia tidak bisa seorang diri, ia harus memiliki seorang pendamping, seorang yang akan menjadi pelindung sekaligus memberikan keseimbangan  dalam kehidupan sehari-hari, satu hal yang sudah baku, bahkan keharusan.

“Mama sakit apa?” Betani masih terisak, air matanya tergenang dan meluncur seakan embun yang menetes dari ujung daun, ia tak lagi menemukan sosok Nayla yang dulu, wanita setengah tua dengan segala pesona yang masih tersisa. Dimana kecantikan itu?

“Mama hanya lelah, perlu istirahat”, setelah itu sepasang mata Nayla kembali terpejam, terpejam, ia perlu meninggalkan kehidupan yang telah mencederainya dengan penyakit berbahaya, kanker ganas yang telah menggerogoti payudaranya. Setelah payudara itu diangkat, maka penyakit it menyebar ke tempat yang lain. Nayla tahu, ia telah memegang kartu mati, yang perlu ia tunggu hanyalah waktu, ia akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang apabila anak gadisnya telah menemukan seorang pelindung. Siapapun perempuan itu, sehebat apapun dan setinggi apapun kedudukannya di dalam birokrasi, tanpa perlindungan seorang suami yang mencintai, ia tak akan menemukan keseimbangan dalam hidup. Nasib seorang perempuan akhirnya berada di dalam genggaman laki-laki yang menikahi, sebab itu ia tidak boleh keliru memilih. Nayla telah menjatuhkan pilihan, sehingga kalaulah Tuhan memanggil, ia akan pergi dengan tenang, Betani medapatkan seorang pelindung yang tepat, yang dapat menyelamatkan seluruh hidupnya, ia tak boleh terlambat bicara.

Frederik, si anak sulung telah bertugas di Sangir Talaud dan mendapatkan seorang calon istri layak kiranya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Ia telah dikabari, kemungkinan tengah sibuk mencari hubungan. Tifani telah lebih dahulu datang, gadis itu bergantian menjaga ibunda dengan Rolando, sang suami. Tifani belum tiba waktunya untuk berkeluarga, Betani hampir menyelesaikan kuliah, sementara penyakit yang telah mencapai stadium lanjut menjadi semacam lampu kuning supaya ia menyampaikan pesan sebelum maut menjemput. Nayla tahu, ia akan mengalami saat-saat yang sulit manakala harus menyampaikan pesan kepada Betani, tetapi harus. Wanita itu memejamkan mata, ia membiarkan rasa sakit dan lunglai menggerogoti sekujur tubuhnya, berlindung di balik selubung mimpi adalah salah satu cara untuk mengurangi segala rasa sakit, meski ia akan terjaga dengan tenaga yang tak lagi bersisa. Nayla sadar, betapa amat berharga detik-detik terakhir di dalam hidup, ia harus mengambil manfaat atasnya.

Betani terpaku, ia seakan terseret ke dalam pusaran mimpi yang sangat buruk, ia tahu, bahwa ibunda tak akan menjalani hidup dalam waktu yang lebih lama, kondisi fisiknya sudah sangat lemah. Gadis itu sempat mendengar tentang beberapa cara pengobatan  alternatif dalam menyembuhkan penyakit berbahaya, mengapa tidak dicoba? Ia harus berupaya untuk memperpanjang usia wanita yang sangat dicintainya. Gadis itu menjatuhkan diri di atas kursi, memandang badan lemah di depannya dengan tatapan hampa, Betani tak sadar lagi akan situasi di sampingnya, ia tahu arti kehilangan dan perpisahan abadi. Betani memejamkan sepasang mata, tak lama lagi ia akan segera menghadapi meja ujian dan pasti akan lulus dengan predikat gemilang, ia akan menyampaikan kabar terbaik bagi ibunda, mendapatkan pekerjaan dan menghujani Nayla dengan hadiah-hadiah kecil yang menyenangkan. Apakah keinginannya akan tercapai? Betani tahu, apa arti dewasa, ia harus bersinggungan dengan kesulitan demi kesulitan dan ia harus berkepala dingin, ia harus mendapatkan jalan keluar.

Ketika akhirnya Nayla terjaga dalam keadaan lebih baik –mungkin dukungan moril, karena kehadiran Betani– mereka hanya berdua, maka wanita itu mulai bersuara, “Beta, anak mama yang manis, mama senang engkau sudah dewasa, tak terasa kuliahmu hampir selesai. Seandainya mama tak sakit-sakitan, engkau masih punya cukup waktu untuk bergembira di masa muda, tapi engkau bisa melihat sendiri keadaan mama. Tak seorangpun tahu berapa usia yang akan diberikan, tetapi dengan keadaan seperti ini, siapapun tak bisa menduga apa lagi berharap usia yang sangat panjang. Sebelum mama meninggal, mama hanya ingin melihatmu tenang, karena telah mendapatkan seorang pelindung yang akan mendampingi hingga seumur hidupmu. Sungguhpun engkau memiliki pendidikan tinggi dan semoga pekerjaan serta kehidupan yang baik, akan tetapi nasib seorang istri tetap berada di dalam tangan suaminya. Jangan salah memilih teman hidup, atau engkau akan menyesal selama-lamanya….” sampai di sini kata-kata Nayla terhenti, napasnya tersengal-sengal, wanita itu tengah berjuang mempertahankan hidup. Betani merasakan telapak tangan Nayla sedingin es batu ketika ia menggenggamnya, gadis itu memijit-mijit tangan Nayla membantunya meneguk air sehingga kondisi Nayla kembali membaik.

“Engkau mengerti nona?”

“Betani mengerti ma”.

Saat itu terdengar ketukan di pintu, tak berapa lama kemudian daun pintu terkuak, Lambert tampak dalam balutan celana jeans dan T Shirt biru laut, aroma maskulin segera merebak di dalam seisi ruangan. Lambert menenteng keranjang berisi buah-buahan segar, “Selamat sore,” suara itu menyapa lembut, Nayla dan Betani segera menoleh ke sumber suara, sedetik kemudian Lambert telah duduk di samping Betani.

Nayla menghela napas lega, tangannya yang lemah menggapai tangan Betani dan Lambert sekaligus, kata-katanya singkat, di telinga Betani kalimat itu terdengar laksana petir menyambar, “Menikahlah ketika mama masih bisa menyaksikan”, setelah kata-kata itu sepasang mata Nayla terpejam, ia telah berjuang menyampaikan hal yang sangat penting, pesan terakhir bagi anak yang dicintainya, napas wanita itu menjadi tenang, iapun tertidur.

Sementara Betani terpaku di kursi tempatnya duduk, ia seakan telah melompat dari hari kemarin kemudian terjatuh ke suatu masa yang serba asing dan tak bisa dimengerti. Lantai yang dipijak seakan segera menyala menjadi tungku yang mengobarkan panas bara api dan membakar sekujur tubuhnya. Degup jantungnya berpacu dengan waktu, teramat cepat, sehingga ia kehilangan kendali untuk menguasai diri. Bahwa Lambert jatuh cinta dengan segala rasio dan sikapnya yang dewasa, ia sudah menyadarinya, bahwa ia tidak bisa mengelak, Betanipun tahu. Akan tetapi, bahwa ia harus menikah dengan Lambert dalam jarak waktu yang amat dekat, karena kesehatan ibunda yang terus memburuk, hal ini adalah penawaran yang mengerikan.

Kalau ia mengatakan “tidak”, kemudian ibunda pergi untuk selama-lamanya, maka ia akan dihantui penyesalan seumur hidup, karena ia tahu Nayla tidak akan pergi dengan tenang. Ia akan selalu mengenang ibunda dalam rasa bersalah, dan ia tahu akibatnya. Kalau ia mengatakan “ya”, berarti ia melawan hati nurani, ia harus melalui ritus paling menentukan dalam hidup dan akan mengubah seluruh nasibnya. Adakah ia mencintai Lambert? Laki-laki yang  nyata-nyata siap menjadi pendamping hidupnya, dan apa sesungguhnya hakekat perkawinan? Apakah ia harus mengakhiri masa lajang hanya demi mengikuti permintaan terakhir ibunda pada hari-harinya yang tersisa? Betani memejamkan mata, ia seakan melihat ribuan meteor bersliweran, lengkung pelangi berhamburan tanpa bentuk menari-nari, dan perubahan dari siang menuju gelap dalam saat yang mencemaskan. Dan tiba-tiba seraut wajah membayang, seraut yang telah ia kenal dalam setiap tarikan napasnya, yang secara diam-diam mendorongnya dalam semangat dan memberi harapan pada suatu hari perkawinan yang bertabur bunga.

Wajah milik Orin!

Apa yang akan terjadi pada Orin apabila pada suatu siang yang terik, sepulang bimbingan skripsi yang melelahkan, maka di meja belajarnya terkapar sepucuk surat undangan perkawinan. Sebuah kabar yang pasti akan menghancurkan seluruh khayalannya! Orin pasti akan mengutuknya, tetapi ia memang tak punya pilihan kecuali berdiri sebagai manusia yang harus dikutuk, kecuali ia harus menyampaikan undangan itu seorang diri beserta seluruh permohona maaf dan tentu saja isak tangis.

Betani merasa kepalanya berdenyut-denyut, berapa lama ia mengenal Orin, sosok itu bahkan telah menyatu di dalam seluruh hari yang tanggal dan berganti. Bertahun setelah perpisahan, sikap Orin tak pernah berubah, ia masih tetap seperti remaja SMA yang berapi-api dengan impian tentang hari esok bersama gadis belia yang dicintainya. Impian itu pasti akan kandas dan berkeping-keping dan ia harus bertanggung jawab terhadap semua itu –satu hal yang menyakiti hatinya– Betani merasa sebuah tangan menggenggam telapaknya dengan erat, suhu badannya menurun dengan sangat cepat, tubuh gadis itu menggigil.

***

Setelah sederet puisi yang menjadi balasan dari kartu valentine yang dikirim untuk Betani, kini Orin menerima telegram dengan kalimat yang teramat singkat:

Orin, beta ada di kampung, ada hal yang amat penting dan harus beta sampaikan. Kalau tak ada halangan, datanglah. Beta tunggu.

With love

Betani

Untuk yang kedua kali kabar dari Betani membuat Orin termangu-mangu, apakah ia harus datang? Sudah berapa lama ia tak bersua dengan gadis itu kecuali kabar dalam bentuk surat? Orin merasa seisi ruangan berputar, kepalanya pening. Ia tahu Betani tidak sedang bercanda dan satu-satunya hal yang dapat memastikan kebenaran isi telegram itu adalah dengan memenuhi permintaannya.

Dan hari itu, Orin mengerti mengapa Betani memintanya datang. Orin baru selesai melepas lelah setelah menempun perjalanan jauh, ia merasa demikian segar setelah mandi dengan air dingin yang menyejukkan. Ia memilih pakaian yang layak dikenakan untuk menemui Betani, ia didesak untuk segera tahu apa yang tengah berlaku pada diri gadis itu. Akan tetapi, sebelum ia selesai berkemas, Betani telah berdiri di depan pintu. Gadis itu mengenakan rok model klok berwarna kelabu dengan blouse hitam leher sabrina bermitif kupu-kupu di bagian dada. Ori terpana! Alangkah cantik dan matang gadis itu setelah nyaris lima tahun perpisahan, ia lebih cantik dari kehadiran pada malam hari di setiap mimpinya. Pendidikan di perguruan tinggi membuat gadis itu tumbuh sebagai wanita terpelajar dengan penampilan bersahaja dan tata rias wajah yang meyakinkan. Sesaat Orin seakan melambung menuju alam mimpi.

“Betani!” reflek Orin memburu dan mendekap Betani ke dalam pelukannya, kerinduannya meluap seakan air bah yang tak tertahan bendungan, tertumpah pada sosok Betani yang lembut, namun penuh tanda tanya. Di pihak lain, Betani hanya terdiam, ia tahu akan berhadapan dengan saat-saat yang sulit, amat sulit, ini adalah kali pertama dan terakhir Orin memeluknya. Gadis itu merasa dadanya berguncang, air matanya tergenang, wajahnya memucat bagai kertas, selebihnya buku-buku jari yang membeku.

Orin tahu diri, ia tak dapat memeluk anak gadis orang berlama-lama, penglihatan orang lain akan menyebabkan perilakunya menjadi buah mulut dengan Betani sebagai sasaran empuk di dalamnya. Ia segera menggandeng Betani menuju ruang tamu, ia berharap akan senyum manis Betani dengan kabar gembira, tetapi hati pemuda itu seakan terpenggal ketika ia segera menangkap, betapa mendung hitam membayang pada wajah sendu gadis itu. Sepasang matanya yang jernih semakin jernih, karena berkaca-kaca oleh air mata. “Beta, ada apa? Kabar apa yang membuatmu mengundangku datang untuk bertemu?” mereka duduk saling menyudut, suasana rumah lengang. Ketika orang tua Orin datang untuk berpamit dengan tergesa-gesa, Betani segera memberikan salam, peluk rindu dan sayang dari Malya, ibunda Orin. Kemudian keduanya kembali terdiam, Orin menunggu dengan gelisah, ia telah menangkap pertanda yang kurang baik. Ia harus bersiap bagi kemungkinan terburuk, lidah pemuda itu mendadak terasa getir. Ia tahu Betani tengah bersungguh-sungguh.

Betani masih terdiam, ia memandang Orin dengan berbagai perasaan berkecamuk, tenggorokannya seakan tercekik, bagaimana ia harus menyampaikan undangan ini?  Surat bersampul indah ini tak ubahnya seperti kain pembungkus orang mati. Di luar tiba-tiba sinar surya yang kuning jernih berubah menjadi gelisah, kesiur angin menghantam daun-daun kering hingga terjungkal ke tanah basah. Betani terjerembab ke dalam sunyi yang dalam, ia tidak bisa membedakan mana yang lebih menyakitkan antara rasa pedih harus melepas harapan indah dengan Orin, karena sehelai surat undangan atau remuk redam, menyadari kehancuran hati Orin. Gadis itu seakan terjepit di antara dua dinding tebal yang tinggi dan suram, napasnya terasa sesak, ia harus berjuang susah payah melawan isak tangis yang akhirnya jebol secara perlahan-lahan. Air mata gadis itu mulai gugur laksana embun yang menetes dari pucuk hijau daun, semakin lama semakin membanjir dan berlinang-linang. “Orin, beta awali kedatangan ini dengan beribu permohonan maaf, pasti bukan keadaan seperti ini yang kita harap setelah sekian lama perpisahan, tetapi nasib menghendaki lain. Takdir yang mungkin tak bisa diubah, karena kita memang tak punya pilihan”, sampai di sini suara Betani terputus, gadis itu memandang Orin dengan hampa, betapa ingin ia memeluk Orin dan merebahkan kepala  di dada yang bidang itu untuk selama-lamanya, tetapi hati kecilnya menghalangi.

Gadis itu mendapatkan kembali sejumput kekuatan ketika merasakan tangan kuat Orin menggenggamnya dengan erat, Betani membiarkan pula Orin menyeka air matanya, mengulurkan segelas air dingin yang diteguk separuh gelas untuk membasahi tenggorokannya yang serasa terbakar. “Apa yang hendak engkau sampaikan Beta?” Orin menatap wajah gadis itu pada jarak yang amat dekat, rasa rindu berkecamuk, berbaur dengan ketakutan yang seakan menyumbat seluruh peredaran darah. Orin mengerti ia tengah ditantang untuk bersikap sangat rasional sepanjang hidupnya dan itu tidak mudah.

Seluruh aliran darah Orin seakan terhenti ketika dengan tangan menggigil Betani mengulurkan sepucuk surat undangan, air mata gadis itu kembali menganak sungai, tetapi Betani menangis dengan sangat santun, ia tahu bagaimana harus melepas emosi tanpa membuat panik suasana. “Mama sakit parah ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berpamit, permintaannya yang terakhir adalah ingin melihat beta mempunyai pendamping supaya bisa pergi dengan tenang. Seandainya beta punya hak mengambil keputusan, tetapi penyakit mama membuat beta tidak bisa memilih. Beribu permohonan maaf beta Orin”, Betani menyusut air mata, ia menggengam lengan Orin dengan lembut, ia mencoba memberikan kekuatan pada pemuda itu ketika sebuah pukulan tengah menghantamnya.

Sementara Orin merasa pandangan matanya menjadi nanar, ia dapat membaca seluruh teks yang tersurat di dalam sampul dengan sehelai undangan yang elegan, mulut pemuda itu terkatup rapat. Kini, ia dapat menterjemahkan puisi singkat yang dikirim Betani, gadis itu tampaknya dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit dan hanya dapat menerima “takdir” dengan segala pedih perih dan akal sehatnya. Orin tahu apa arti perkawinan, penyatuan dua jenis anak manusia dalam pranata resmi yang disyahkan hukum dan disaksikan masyarakat dalam sebuah perjamuan, sehingga sepasang mempelai itu akan dinobatkan menjadi raja dan ratu dalam semalam. Saat berbahagia bagi sepasang anak manusia untuk memulai kehidupan bersama, beranak pinak meneruskan generasi dalam sebuah keseimbangan antara perpaduan yin dan yang. Saat dua unsur alam yang saling berlawanan bahkan saling mengisi dan berbagi untuk jangka waktu yang tak ada batasnya sampai maut memisahkan. Orin merasa aliran napasnya terhenti, udara tak lagi berputar, membeku pada seputar tempatnya berada. Perlahan-lahan ia merasa seakan ada sebilah pisau tajam menggarit di punggungnya semakin dalam hingga menembus ke ulu hati.

Orin memejamkan mata, impiannya hancur berkeping-keping, berserakan tanpa bentuk mengejeknya dengan harapan yang kandas. Ia tak akan pernah meraih Betani menjadi pengantinnya, gadis itu akan segera menjadi ratu dalam semalam bagi seorang “raja” yang berhasil melamar pada orang tuanya, mereka akan hidup berbagia selama-lamanya, ia hanyalah seekor pungguk yang merindukan bulan. Bocah kecil yang bermimpi tentang seorang  puteri yang cantik jelita dan terlupakan. Beta salah apa?

“Engkau hendak menikah?” terbata-bata suara Orin.

“Beta tak berkehendak, tetapi bagaimana dengan sisa hidup mama? Apa yang beta miliki di dunia ini kecuali orang tua yang mengasihi beta sejak kecil hingga dewasa”, Betani telah dapat menguasai emosi, ia telah cukup mencucurkan air mata, ia harus kembali pada tujuan hahekat proses belajar, yaitu pengendalian diri.

Orin memandang Betani dengan asing, tiba-tiba ia tak mengenal lagi gadis itu, kertas undangan itu telah berubah menjadi pisau silet yang mencabik-cabik harapan-harapannya, kini ia terjerembab ke dalam ruangan kosong yang menyakitkan. Pemuda itu menyandarkan punggungnya dengan gamang, sesisi dunia seakan tengah mentertawainya, ia tidak tahu harus tetap mengasihi Betani, karena keterbatasan gadis itu dalam memilih demi ketaatan kepada orang tua, atau membenci, karena secara tidak langsung telah menolaknya, atau menganggapnya tak pernah ada, karena gadis itu akan menghilang selama-lamanya dari kehidupannya. Air mata nyaris gugur, tetapi Orin tetap si bintang lapangan, hatinya mengeras, pantang bagi seorang laki-laki menangis, meski ia harus kehilangan seorang Betani.

Kesunyian tiba-tiba meregang, kering dan menggelisahkan, keduanya sama-sama terdiam, kehilangan kata-kata. Sementara waktu bergulir lebih cepat dari biasa, sinar surya yang jatuh condong kekuning-kuningan berubah menjadi sendu dan tanpa makna, bahkan kesiur anginpun terasa asing. Betani tahu, ia tak bisa berlama-lama dalam situasi seperti ini, ia telah menyampaikan pesan utama dengan susah payah, Orin telah tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia harus berpamit, “Baiklah Orin, beribu permohonan maaf beta untuk undangan ini, beta harap engkau datang pada hari perkawinan nanti. Kita tetap bersahabat”, Betani telah dapat menguasai diri, ia akan mendapat teguran bila pulang ke rumah setelah gelap tiba.

Orin memandangi Betani dengan lidah getir, ia merasa seakan sebagian jiwanya melayang kemudian terbanting ke dasar-dasar jurang. Berapa lama ia bermimpi tentang Betani? Mimpi itu tak akan berubah menjadi apapun kecuali surat undangan yang mentertawai. Orin merasa dadanya berguncang, ia menggenggang sepasang telapan Betani yang dingin tanpa aliran darah, menatap sepasang mata Betani dekat-dekat dan mendapatkan  telaga bening yang teramat dalam tanpa dasar. Wajah gadis itu demikian pasrah tanpa perlawanan, Orin menyingkirkan jarak, menepis kenyataan yang akan segera memisahkan mereka menuju jalan hidup yang berbeda dan tak akan pernah sampai pada titik temu. Untuk yang pertama kali ia mencium seorang gadis, menyatukan rasa rindu, cinta, dendam, dan kalah. Betani memejamkan mata, ia membiarkan Orin berlaku sesuai dengan nalurinya, janur kuning belum melengkung di pintu gebang rumahnya, Orin masih bisa memperlakukan dirinya selayaknya seorang kekasih. Betani merasa terjebak ke dalam ruangan hampa, hanya dalam hitungan detik, mereka kembali kepada suatu kesadaran, tentang perpisahan yang sudah harus terjadi.

Senja berlalu dalam murung ketika akhirnya Betani berpamit, untuk yang kedua kali Orin merasa kalah, ia kehilangan daya untuk menahan tangan gadis itu, mengemis cinta, dan memohon kesediaannya hidup bersama. Pemuda itu kehilangan kata-kata, kakinya limbung, lidahnya kelu, pandang matanya nanar, ia hanya berdiri gagu ketika akhirnya Betani benar-benar berlalu dengan isak tertahan. Orin hanya dapat menatap jejak kaki Betani yang membekas di atas tanah….

***

Bersambung

Berikan Komentar Anda

Pos terkait