Selendang Pelangi, IV (Sebuah Roman)

  • Whatsapp
Ilustrasi Selendang Pelang. Foto: Ibiroma Wamla
Ilustrasi Selendang Pelang. Foto: Ibiroma Wamla

Oleh; Dewi Linggasari

KEEMPAT

Bacaan Lainnya

banner 400x130

Tian mengepak seperangkat cangkir dan poci antik di dalam kotak dengan sehelai kertas kado bermotif ros berwarna pink. Ia tengah mempersiapkan hadiah exlusif bagi sahabat yang tetap melekat di hati, meski jarak teramat jauh memisahkan. Hari terindah bagi setiap orang, yaitu hari perkawinan, hari bersejarah yang akan merubah seluruh perjalanan hidup. Ia dan teman-teman yang lain pernah menduga, bahwa Betani bakal menikah dengan Orin, bintang remaja yang menjadi buah bibir di SMA, tetapi jalan hidup tak dapat ditebak, karena cerita hidup manusia bukanlah teka-teki silang yang  bisa dijawab dengan mudah, berdasarkan huruf yang saling mempengaruhi. Jalan hidup adalah misteri yang hanya dapat diungkap oleh sang waktu, perjalanan semesta yang secara arif –tanpa campur tangan manusia– selalu menjawab setiap tanda tanya.

Selepas pesta perpisahan di halaman SMA, Tian memilih menjadi guru TK, dalam jarak pandang yang sangat jauh, ia bisa memonitor segala yang pernah terjadi pada diri Betani dan Orin. Sebagai sahabat, ia memahami harapan-harapan keduanya, akan tetapi sebagai serorang gadis yang memiliki keinginan dan tentu saja rasa cinta, Tian memendam rasa sakit. Ia tak pernah dapat melupakan Orin, setiap kali bertemu dengan orang tua Orin di pasar atau di tempat-tempat umum Tian selalu menyanyakan Orin dan selalu dijawab dengan segala keramahan. Malya, perempuan budiman itu memahami bahasa Tian, guru TK yang lembut, santun, dan baik budi. Bila dibandingkan dengan Betani, jelas Tian kalah cantik, tetapi daya tarik dapat terbangun dari hati yang tulus. Kecantikan hakiki pada prinsipnya justru terpancar dari dalam hati, bukan penampilan lahiriah semata-mata.

Terakhir Tian bertemu Malya di salon untuk merapikan rambut yang telah panjang  berantakan, hati gadis itu bersorak ketika Malya menyampaikan perihal kedatangan Orin. Sementara di rumah Tian mendapat kunjungan pula dari Betani, sahabatnya itu menyampaikan sendiri undangan perkawinan. Semula Tian mengira Betani menikah dengan Orin, akan tetapi undangan itu mengungkapkan segalanya. Bagaimana kabar Orin ketika akhirnya ia harus tahu, Betani menikah dengan orang lain? Tian tak berani menduga-duga, ia pasti akan bertemu dengan Orin pada pesta perkawinan Betani dan mereka dapat bertegur sapa.

Tian berdiri di depan kaca, memantas-mantas gaun berwarna kelabu yang menutup hingga betis kaki, rambutnya yang sebahu telah disanggul seperti pada hari biasa ia mengajar anak-anak yang lucu di ruangan taman kanak-kanak. Rias wajahnya sederhana, gadis itu mengenakan seuntai kalung emas dengan leontin mutiara serta sepasang giwang yang berkilat-kilat oleh cahaya. Jarum jam telah menunjukkan pukul 15.30 WIT, Tian harus datang lebih awal, ia akan membantu Betani berhias dengan pakaian adat, mengaraknya menuju pelaminan untuk upacara cuci kaki. Ia akan baronggeng  –menari–  dalam irama musik tradisonil, gong serta calung hingga larut malam, bahkan dini hari untuk merayakan hari yang penuh suka cita ini.

Ibu guru Taman Kanak-kanak itu hanya memerlukan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki menuju ke rumah Betani. Suasana pesta menyambut kehadiran gadis itu, halaman rumah Betani telah dipasang terap dengan janur kuning melengkung indah tepat pada pintu gerbang. Meja-meja beralas daun pisang dengan kursi-kursi telah ditata rapi bagi sebuah perjamuan. Sebuah pelaminan dengan nuansa warna gading dan pink berkolaborasi secara menakjubkan sekaligus menjadi konsentrasi pada suasana pesta. Ruangan kosong khusus untuk acara baronggeng telah disiapkan pula. Sementara orang tengah sibuk memasang lampu, sound system  dan segala perlengkapan bagi upacara cuci kaki, sebuah ritus yang melambangkan penerimaan dari kerabat laki-laki bagi pengantin perempuan. Kediaman Lambert ada di pulau yang sangat jauh, yang tidak memungkinkan Nayla datang, karena alasan kesehatan, maka upacara adat ini diselenggarakan di rumah Betani.

Tian menyapa satu demi satu orang yang ia kenal, ia menyalami Nayla dan ayahanda Betani kemudian beregas menuju ke kamar Betani, “Halo sayang sudah siap menjadi ratu dalam semalam?” Tian menyeruak ke dalam kamar pengantin yang telah dihias oleh tangan-tangan ahli, seluruh hiasan bernuansa putih, mulai dari kain gorden, kelambu, sprei, dan kain penutup dinding. Ruangan ini harum semerbak oleh aroma pewangi yang memberikan sasana  rileks. Tian mendapatkan Betani dalam keadaan segar selepas mandi, calon pengantin itu tengah berkemas menuju ke rumah kerabat dekat untuk dirias selayaknya seorang pengantin. Tian berharap akan wajah bahagia seorang pengantin yang siap menjelang hari istimewa, tetapi dahi gadis itu berkerut ketika ia menyadari betapa murung wajah sang calon pengantin itu. Pantaskah seorang yang tengah menjelang hari bahagia berwajah mendung?  Betani tak banyak berujar pada saat mengantar surat undangan, ia tampak tergesa-gesa, berbasa basi dan segera berpamit. Tian tak banyak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dengan terselenggaranya perkawinan ini? “Beta bawa kado untuk engkau, beta harap engkau menyenanginya”, Tian mengulurkan bungkusan kado itu yang segera diterima Betani dengan air mata tergenang, hatinya tersentuh pada ketulusan hati Tian, setelah sekian tahun tak lagi membuat “kenakalan” sebagai sesama anggota geng, Tian masih tetap memberikan perlakuan istimewa. Gadis itu telah menjadi wanita dewasa dengan sikap matang dan meyakinkan. Akan tetapi sebenarnya air mata Betani bersumber dari persoalan yang lain, perlukah Tian tahu?

“Kapan engkau menyusul?”

“Menyusul kemana?”

“Menyusul menjadi pengantin tentu saja”.

Tawa Tian meledak, gadis itu terbahak-bahak seakan sedang menyaksikan adegan lawak yang paling lucu, Betani terdiam. Alangkah senangnya gadis itu, ia tak terbeban masalah dan pilihan hidup yang membingungkan, ia bebas tertawa seolah dalam hidup ini tak ada masalah apa-apa. Betani menahan genangan air mata, ia harus bersikap dewasa, kewajiban menenangkan hati ibunda menjadi “tugas” yang harus dipikul tanpa keluh kesah.

“Maaf, beta belum memikirkan perkawinan, belum laku, tidak ada laki-laki yang berminat”.

“Ko pasti tipu!”

“Atau beta tak ada minat sama laki-laki, tak ada yang memenuhi syarat”, Tian berbicara seenaknya, satu hal yang sebenarnya disukai Betani, karena Tian tak suka berpura-pura.

“Ko pasti punya laki-laki pilihan, tapi masih sembunyi, nanti kalau sudah dengar beta punya cerita, pasti engkau ingin cepat-cepat kawin”, Betani  menyisir rambut, merapikan seluruh penampilan, ia akan dirias pada kediaman seorang kerabat yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah tinggal. Setelah siap dengan pakaian pengantin ia akan diarak beramai-ramai. Gadis itu tak peduli ketika Tian kembali terbahak-bahak dengan gelak tawa lebih keras, sehingga mengundang beberapa orang berdatangan untuk menyaksikan peristiwa apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Ayo nona, engkau harus segera dirias”, Meiyanti, seorang perempuan setengah tua, terhitung kerabat dekat Betani menghambur masuk, tak lama kemudian Betani telah digandeng menuju kediaman seorang kerabat dekat yang lain, seorang perias pengantin telah menunggu. Tak lama kemudian Betani telah duduk di depan meja rias berkaca jernih dengan suasana kamar yang bersih dan segar, sengaja dipersiapkan untuk mempersiapkan ratu dalam semalam. Betani tak banyak berulah, ia diam menuruti setiap gerak ahli dari sang juru rias yang bertindak dengan sangat hati-hati. Penampilan dari seorang pengantin yang menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu sekaligus merupakan promosi bagi permintaan pada hari-hari yang akan datang. Perias pengantin itu tidak bersedia mengambil tindakan ceroboh, karena penampilan Betani segera berubah, dari seorang gadis  sederhana menjadi seorang wanita dewasa yang bersedia mengarungi samudra hidup. Tata rias khas terletak pada titik-titik berwarna putih yang memanjang secara simetris pada sepasang alis mata pengantin itu. Pakaian adat yang dikenakan Betani adalah kain batik dan kebaya dari brokat putih yang sangat halus dengan sepasang selendang kembar yang disampirkan secara menyilang di bagian dada dan punggung. Tusuk konde berbentuk kembang goyang dalam warna keemasan, giwang bermata mutiara dan kalung dengan leontin serupa menggenapi seluruh penampilannya.

Di luar kerabat dari pihak laki-laki telah siap untuk menjemput, suara canda ria menyatu dengan cahaya keemasan yang jatuh pada hijau dedaunan dan bunga yang mekar dengan molek di halaman. Seorang kerabat setengah tua segera menutup daun pintu, acara permintaan dari pihak pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan akan segera dilaksanakan. “Tok… tok…tok…. buka pintu!” terdengar suara berat seorang laki-laki mohon dikuakkan pintu.

“Bayar dulu”,  Meiyanti  menjawab.

“Iyo, beta bayar, buka pintu”, dari luar daun pintu kembali terdengar jawaban. Sesaat kemudian daun pintu terbuka, kedua orang tua Lambert telah bersiap di pintu dengan lembaran rupiah di tangan, lembaran itu diberikan kepada Meiyanti sebagai “uang tebusan” bagi calon pengantin perempuan.

“Kurang, tambah lagi”, Meiyanti menadahkan tangan. Maka ibunda Lambert segera mengulurkan lembaran rupiah yang masih baru kepada orang yang sama dan diterima dengan senyum suka cita.

Betani diserahkan kepada orang tua pengantin laki-laki, digandeng keluar dari kamar rias menuju keramaian penjemput yang sudah bersiap mengarak pengantin menuju pelaminan sambil baronggeng –menari-nari– Mau tidak mau Betani harus tersenyum ketika ia mulai menjadi titik perhatian dari serombongan pengiring yang bersorak sorai dengan riuh menerima kehadirannya. Empat orang perempuan membentangkan sehelai kain yang masih baru di atas kepala Betani selayaknya payung, meski panas matahari tak lagi bersisa. Cahaya surya lembayung keemasan, langit membentang dalam warna cerah, membiru sebagai pertanda jarak yang tiada berbatas dengan pandangan mata. Burung-burung ramai beterbangan, mencicit seakan nyanyian semesta, membelah langit.

Betani mulai melangkah dengan kaki telanjang, Tian telah mengemasi seluruh barang-barangnya dalam sebuah tas mungil dan menyandangnya di atas pundak. Iringan pengantin mulai bergerak perlahan, cahaya senja terpantul sempurna, penampilan Betani sungguh menyerupai bidadari yang turun dari langit bersama lengkung pelangi. Juru rias telah berhasil menunjukkan kebolehannya, tangannya terampil mengubah penampilan seorang gadis dalam menjelang malam pengantin.

Seluruh perhatian masyarakat yang menetap di sepanjang jalan yang dilalui Betani menghambur dari dalam rumah untuk ikut serta bersorak sorai. Setiap kendaraan yang berpapasan mengurangi kecepatan, memberikan kesempatan kepada iring-iringan pengantin untuk menggunakan jalan raya dengan lebih leluasa. Semakin lama iring-iringan semakin ramai, samar-samar mulai terdengar gema irama gong dan calung beradu serta gelak tawa dari orang yang menari-nari. Sejenak Betani terlupa dengan kesedihan, ia membaur menjadi satu sebagai bagian dari adat dan rituil yang sudah mengakar beratus tahun di tanah ini. Kurang lebih seratus meter dari pelaminan serombongan orang beramai-ramai datang sambil membawa tikar anyaman daun pandan, mereka menghentikan langkah kaki Betani kemudian membentangkan tikar dan mempersilakan Betani melangkah di atas tikar. Tikar-tikar itu disambung dengan tikar-tikar yang lain, Betani melangkah dengan sangat perlahan, ia tak sampai hati untuk tidak tersenyum, ia dapat melihat betapa gembira orang-orang yang tengah meramaikan adat perkawinannya, sekurang-kurangnya ia harus menunjukkan mimik muka bahagia, meski hati kecil meragukannya.

Ketika langkah kaki telah melewati tikar yang terbentang di depannya, maka tikar-tikar yang berada di bagian belakang segera diangkat kemudian dipindahkan di bagian depan. Demikian, sehingga Betani tak pernah menginjakkan kaki di atas tanah hingga ia dijemput di bawah janur kuning yang melengkung, para kerabat membawakan tari cakalele dengan bersuka ria, irama gong dan calung terus menyatu, menjadi musik yang meriah dan hingar bingar. Para penjemput terus meletakkan tikar pandang di atas tanah yang akan dilewati pengantin perempuan hingga Betani duduk di atas pelaminan berkursi tunggal, seorang wanita setengah tua berkain kebaya memangkunya.

Setiap anggota kerabat membawakan tarian cakalele, satu demi satu menari dengan iringan musik, tangan memegang perisai tradisionil dan janur. Setelah memberikan penghormatan kepada pengantin perempuan, maka kerabat yang lain mendapar giliran menari. Betani terduduk mengikuti keseluruhan acara tanpa banyak berkata-kata, ia bertatapan dengan Lambert yang tampak berbahagia menyaksikan betapa cantik pengantin perempuannya. Laki-laki itu begitu yakin, bahwa ia tak memilih seorang istri yang keliru, perkawinan adalah ritual terpenting dalam hidup yang akan mengubah masa depan seseorang untuk jangka waktu yang tiada batasnya. Apabila ia memilih orang yang salah, maka akan porak porandalah seluruh hidupnya. Ia berani menyelenggarakan upacara adat cuci kaki, bagi Betani, karena suatu keyakinan, bahwa ia telah mempersunting seorang wanita yang layak kiranya berperan sebagai istri, pendamping hidup sekaligus ibu bagi anak yang bakal dilahirkan. Lambert mengenakan kemeja warna abu-abu lengan panjang dan celana warna gelap, rambut laki-laki itu tampak rapi setelah bercukur. Lambert duduk dengan tenang, ia menikmati suasana istimewa, ketika irama gong dan calung berkolaborasi menciptakan suara yang spesifik dan bergelora hingga ke dinding jiwa.

Di atas meja beralas daun pisang yang telah dibersihkan hingga mengkilap, terhidang makanan tradisionil. Adalah nasi, keladi, ubi, ikan, ayam, daging, berupa sayur mayur yang diolah dengan sedap serta gelas bambu yang berisi tuak. Cahaya lilin berpendar dengan syahdu menghidupkan suasana, seluruh hadirin bergembira, baronggeng bersama-sama mengikuti irama. Hingga akhirnya tibalah acara cuci kaki, seorang gadis kecil dari kerabat Lambert, berkain kebaya dengan tata rias wajah yang lembut serta konde di kepala, perlahan-lahan duduk menuju ke pelaminan membawa mangkuk gelas berisi air serta cabang pohon yang dipetik dengan seluruh daun-daun. Gadis itu berlutut kemudian mencelupkan dedaunan ke dalam air, membasuh sepasang kaki Betani berulang-ulang hingga tiga kali. Adat ini menjadi pertanda, bahwa Betani telah diterima secara resmi di sebagai anggota kerabat keluarga Lambert, ia telah dikukuhkan secara simbolis.

Betani tersenyum kecil, kemudian pembawa acara mempersilakan Betani untuk berkeliling ke seluruh kursi untuk menyuapkan sesendok nasi bagi seluruh keluarga Lambert. Mula-mula pengantin itu menyuapkan nasi bagi kedua orang tua Lambert, kemudian bagi kedua orang tuanya serta seluruh kerabat lain diiringi sorak sorai menandakan kegembiraan. Ketika ia duduk  kembali ke pelaminan dipangku seorang perempuan berkain kebaya, maka acara tari tari tide-tide dimulai. Sekelompok gadis kecil berkain kebaya dan bergelung konde menari secara lemah gemulai di atas tikar pandan. Betani pernah melakukan hal yang sama saat ia masih seorang gadis kecil, acara ini sangat menyenangkan, ia akan menampilkan kebolehannya di hadapan para hadirin, mendapat sanjungan serta pujian. Kini, ketika waktu berputar –bahkan dengan amat cepat seakan anak panah yang melesat laksana kilat– tiba saatnya ia menjadi pengantin sementara anak-anak mempersembahkan tide-tide.

Kemudian tibalah saatnya bagi pengantin perempuan untuk baronggeng, Betani digandeng menuju ke atas tikar yang dibentangkan di tengah-tengah ruangan, iapun menari mengikuti irama kedua orang tua pengantin laki-laki dan perempuan baronggeng terlebih dahulu kemudian menyelipkan lembaran rupiah di atas kepala Betani. Uang itu menjadi hak pengantin perempuan, kerabat dan tamu undangan lain menyusul,  baronggeng  kemudian menyelipkan lembaran rupiah di atas kepala Betani pada lipatan-lipatan konde, sehingga kepala pengantin itu tampak seakan pohon uang. Betani larut dalam kegembiraan, ketika Tian ikut pula baronggeng sambil menyelipkan lembaran rupiah di atas kepalanya, Betani tak dapat menahan tawa. Tian amat lincah baronggeng, gadis itu menampakkan sikap persahabatan yang tulus.

Betani masih tetap baronggeng, sesekali pandangan matanya bertautan dengan pandangan mata Nayla, ibunda tampak benar berbahagia. Kesehatannya membaik secara tiba-tiba, Nayla melakukan pengobatan alternatif yang berdampak positif bagi kesehatan. Keinginan  untuk menikahkan sang gadis dalam pesta adat yang meriah telah tercapai, ia akan merasa tenang apa bila hal yang terburuk terjadi, Betani pasti akan bertanggung jawab terhadap satu-satunya adik kandung yang mesti dibesarkan. Nayla duduk tenang didampingi sang suami, pandangan matanya tak pernah terlepas dari setiap gerakan anak gadisnya. Nayla dan Betani tak sempat memperhatikan kehadiran seorang tamu yang mengikuti keseluruhan acara ini, bahkan tanpa seulas senyum. Kedua orang perempuan itu terlalu sibuk, hanyut di dalam suasana.

Betani tersadar pada undangan yang diberikan secara pribadi kepada Orin ketika ia merasa lelah baronggeng. Sekilas ia melihat bayangan Orin duduk membisu, pemuda itu seakan bersembunyi dari meriah suasana, ia sengaja hadir, tetapi ia tidak menjadi bagian yang berbahagia di dalamnya. Sekilas ketika keduanya bertatapan, Betani merasa seakan seluruh suara terdiam, ia tak lagi dapat mendengar suara gong serta calung, sorak sorai orang-orang yang tengah baronggeng serta gelak tawa dari orang yang mulai mabuk, karena tuak dari gelas bambu. Orin datang sekedar memenuhi undangannya, bukan untuk ikut serta berbahagia, wajah pemuda itu tak dapat menyembunyikan kesakitan, satu hal yang melukainya. Betani membuang pandang, tanpa sadar ia berpamit kembali ke kamar pengantin dengan alasan untuk memperbaiki rias wajah.

Tak berapa lama kemudian, pengantin itu menghambur ke dalam keheningan kamar, irama gong serta calung terdengar semakin samar, Betani mengatupkan daun pintu. Ia bermaksud menghempaskan diri di atas pembaringan, akan tetapi karangan bunga segar dari sebuah jambangan antik menarik perhatiaannya. Siapa memberikan rangkaian bunga indah pada hari perkawinannya? Di antara bunga-bunga segar itu terdapat secarik kertas, Betani meraih dan membaca deretan kalimat pendek di atasnya:

“Selamat Berbahagia, abadi dan selamanya…..”

Orin

Untuk sebuah ucapan pada hari perkawinan, kalimat itu terlalu pendek dan tak bertendensi apa-apa. Akan tetapi,  bagi Betani kata-kata itu segera berubah layaknya sebilah bambu yang bergerak dengan pasti, menghunjam tepat di relung hati. Pengantin itu memejamkan mata, ia merasa seakan-akan seluruh isi kamar berkabut, semakin tebal-semakin tebal, sehingga ia tak dapat mengendalikan seluruh pandangan mata.

***

Di luar pesta masih tetap berlangsung, Tian tergelak-gelak di antara sekalian yang bergembira. Akan tetapi gelak tawanya mereda ketika ia melihat bayangan Orin terdiam pada salah sudut tanpa sepatah kata. Ia terlalu kelewatan dalam berpesta, sehingga ia nyaris melupakan kehadiran yang satu ini. “Orin, bagaimana engkau punya kabar? beta hampir tak dapat mengenal engkau. Kapan datang? Ayo baronggeng”, Tian menggenggam tangan Orin menariknya ke arena, tetapi Orin tampak enggan, pemuda itu tetap terduduk. Setelah sekian lama berpisah dengan Tian, tiba-tiba ia merasa aneh, gadis itu bersikap seolah-olah mereka teman akrab yang tak pernah terpisah jarak, waktu, dan perbedaan. Kata-katanya ramah, tindak tanduknya alamiah, Orin dapat merasakan kehangatan pada tatapan matanya, sementara genggaman tangannya demikian erat.

Orin sengaja hadir pada upacara cuci kaki lambat-lambat setelah malam benar-benar menghitam bagai cairan tinta, ia harus memenuhi undangan Betani, meski suasana pesta akan berubah menjadi ritual asing yang menggelisahkan. Pemuda itu menyerahkan karangan bunga yang diperoleh dengan susah payah, memberikan kepada penerima tamu  sambil berbisik supaya karangan bunga itu diletakkan di dalam kamar pengantin kemudian duduk pada sudut yang tersembunyi, mengikuti keseluruhan jalannya ritual. Ia mengira tak banyak lagi orang yang mengenali, terlebih setelah seorang demi seorang mulai melayang, karena pengaruh alkohol tuak yang alami. Dari kejauhan Orin menatap Betani yang tengah dinobatkan menjadi ratu dalam semalam, penampilan gadis itu dalam semalam sungguh berubah secara menakjubkan. Betani telah berubah menjadi seorang wanita dewasa, ia bukan hanya cantik sekaligus matang, tetapi sangat menggairahkan. Orin mengamati pula pengantin laki-laki yang tengah menikmati hari kemenangan dengan menyunting seorang perawan impian. Lambert tampak sebagai laki-laki dewasa dengan perangai terpelajar, gerak geriknya tenang, tutur katanya bersahaja. Pengantin laki-laki itu selalu berada tak jauh dari lingkaran keluarga yang nyata menunjukkan mereka adalah keluarga terpandang. Orin mengerti, mengapa Nayla mempercayakan hari perkawinan ini, Betani tak mendapatkan calon suami yang salah, mereka sungguh serasi. Sederet kalimat yang ia tulis dan terselip pada karangan bunga benar  benar adanya, Betani akan mendapatkan kebahagiaan abadi. Pasangan suami istri adalah dua orang yang akan saling mengisi sekaligus memberikan pengaruh di dalam kebersamaan untuk jangka waktu yang tak ada batasnya hingga maut memisahkan. Ketika seorang wanita baik-baik ditakdirkan menikah dengan seorang laki-laki yang bertanggung jawab, maka kebahagiaan hidup sudah pasti bakal terngenggam. Betani menjalani takdir yang semestinya.

Andai pengantin laki-laki itu adalah dirinya….

Orin memejamkan mata, ia merasa kehampaan menguasai sesisi dada, pandangan matanya bergoyang, napasnya tersengal. Ketika seorang mengulurkan gelas bambu berisi tuak Orin segera menenggaknya, ia merasa lebih baik. Gelas bambu pertama disusul gelas kedua, ketiga. Seterusnya Orin mulai kehilangan kewaspadaan, separuh kesadarannya hilang, karena rasa sakit, separuh hilang, karena akibat paling berbahaya dari alkohol. Orin tak tahu dimana dirinya berpijak, ia merasa seakan melayang-layang di ketinggian, dihempas angin, diguncang prahara, selebihnya kelabu. Suasana sekitar tampak seakan mendung tebal menjelang hujan, mendung semakin padat, semakin dingin. Orin mencoba bertahan dari sebuah kekuatan tak tembus mata yang seakan menyedotnya menuju suatu pusaran aneh yang terus mengasing seakan terowongan waktu. Ia mencoba bertahan dan terus bertahan, akan tetapi semakin lama seluruh tulang belulangnya seakan terlepas dari persendian, ia terbaring tanpa kerangka, ia merasa demikian lemas, sehingga ketika angin kencang berpusing seakan gasing, pemuda itu hanya dapat pasrah, menyerahkan diri dicengkeram kekuatan yang menakutkan.

Di keramaian pesta Orin memejamkan mata, menyandarkan kepala, merebahkan tubuh pada kursi panjang. Suasana pesta semakin meriah, Betani kembali baronggeng, kepalanya berubah seakan pohon uang, tuak terus mengalir dituangkan dari gelas bambu yang satu ke gelas bambu yang lain, suara gong serta calung semakin membahana. Akan tetapi, di telinga Orin suara itu terdengar semakin jauh, semakin samar, kacau, terpatah-patah, dan akhirnya berhenti sama sekali. Pemuda itu terkulai di kursi panjang seakan tidur yang pulas, amat pulas. Tak seorangpun menaruh waspada kecuali Tian, gadis itu mengguncang-guncang bahu Orin, tetapi pemuda itu tak bereaksi. Tian mengira Orin benar mengantuk dan segera tertidur, ternyata hingga acara selesai pada dini hari Orin tak juga terbangun, pemuda itu diserang demam tinggi, mengigau. Keesokan harinya ketika seisi rumah sibuk berkemas untuk membenahi tempat acara yang menjadi kacau balau, Orin masih juga terkulai di atas kursi, sepasang matanya terpejam. Beberapa orang mencoba membangunkan, Orin tak juga terjaga, suhu badan pemuda itu semakin tinggi, akhirnya pemuda itu dilarikan ke rumah sakit. Sementara Betani tak pernah tahu apa yang telah terjadi, ia harus kembali dirias dalam gaun putih untuk melakukan sakramen di gereja.

***

Orin kehilangan komunikasi dengan dunia luar, ia tak menyadari keberadaan diri dan perihal yang bakal terjadi, terlebih prosesi sakramen perkawinan Betani, ia bahkan tak mengingat undangan perkawinan atau acara adat cuci kaki. Ia berada di tempat yang sangat jauh dari jangkauan tangan manusia, ia sendiri, tersisih, nyeri, dan linglung. Pemuda itu tak menyadari hari yang tanggal, jarum jam yang aktif berputar, perubahan cahaya dari gelap menuju terang dan sebaliknya. Orin berada di suatu tempat yang sangat jauh, kesunyian menyeruak semakin dalam bagai tajam mata pisau terbenam pada luka menganga. Akan tetapi, aneh Orin tak merasa nyeri atau pedih, ia hanya merasa sendiri, tak dapat dijangkau siapapun. Ia berada di depan sebuah gua  dengan dinding-dinding yang samar dan membingungkan, berkas cahaya berpendar pada ujung yang sangat jauh dan suram dicengkeram kegelapan. Sesosok bayangan menggapai, “Orin, mari….”

Orin berniat  mengikuti sosok bayangan itu, tetapi langkah kaki seakan tersangkut seribu akar pohon saling mengait, menyebabkan ia harus berjuang sekuat tenaga untuk berontak, membebaskan kaki, menuju berkas cahaya di ujung gua. Pemuda terengah-engah, semakin ia berusaha melawan, semakin kuat akar pohon menjerat, akar pohon itu kini berubah menjadi taring, menggigit, menimbulkan rasa sakit. Pemuda itu berteriak, mengeluh, sepasang matanya yang sayu terbuka, penciumannya membau aroma obat-obatan yang menyengat.

Orin terjaga, pandangan matanya dipenuhi kunang-kunang, kepalanya pening, tubuhnya ngilu tanpa tenaga. Apa yang tengah berlaku? Pemuda itu mendapati dirinya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dinding-dinding yang suram. Ia dapat mengenali kembali wajah bunda dan ayahanda, seorang berseragam putih, mungkin dokter, dan wajah seorang  yang teramat cemas, wajah Tian. Gadis itu menggenggam telapak tangannya yang serasa beku. Orin merasa terlalu lemah untuk menyadari semua ini, ia kembali terkulai seakan ranting kering terlepas dari cabang pohon, diterpa angin musim.

Pemuda itu harus terus menerus dirawat dan dijaga selama seminggu penuh, selang infus meneteskan laktosa secara lemah dan pasti, segala macam cara dilakukan untuk menyelamatkan Orin sampai akhirnya pemuda itu terjaga dengan wajah suram. “Apa yang terjadi?” suara Orin pelan.

“Engkau minum tuak terlalu banyak, mabuk, pingsan, dan tidak bangun selama satu minggu, syukur engkau selamat, berhenti minum barang bodog itu atau engkau akan sengsara selamanya”, Malya berbicara dengan ketakutan, ia telah membesarkan pemuda ini selama sembilan bulan sepuluh hari di dalam kandungan, merawatnya dari bayi hingga kanak-kanak, gesit sebagai pemuda remaja, dan cemerlang menjadi mahasiswa. Anak kesayangannya itu kini terbaring tanpa daya, karena tuak, minuman celaka yang sebenarnya tak berguna apa-apa. Malya tahu, Orin tak pernah tertarik minum tuak, mengapa tiba-tiba anak itu menjadi gila?!

Orin terlalu lemah untuk memahami semuanya, ia memejamkan mata melawan rasa sakit yang terus menggerogoti sekujur tubuh hingga ke ulu hati. Ia berusaha kembali mendapatkan seluruh kesadaran, sehingga akhirnya dirinya harus terkapar di atas ranjang rumah sakit. Samar-samar ia teringat kepada suasana upacara cuci kaki dengan Betani sebagai tokoh utama pada perhelatan itu. Ah! Ia telah kehilangan dengan mutlak, ia kalah telak, ia gagal menggapai impian, ia menenggak tuak secara berlebihan, karena kekecewaan yang dalam, dan kini terbaring tanpa daya dengan selang infus tetap bekerja.

Orin kembali memejamkan mata, ia seakan ingin tertidur tanpa harus terjaga untuk selamanya, betapa indahnya mimpi, betapa menyebalkan dunia nyata. Akan tetapi betapapun ia mencoba memejamkan mata,  jiwanya tak bisa tertidur, ia tak bisa terus berkompromi dengan dunia mimpi, kehidupan adalah nyata dan ia menjadi tokoh baku di dalamnya.  Tokoh yang patut dikasihani dan sendirian, Orin mengeluh. Ia tahu akan berhadapan dengan saat-saat sulit untuk jangka waktu yang tak ada batasnya, pemuda itu merasa dirinya teramat kecil, kecil dan memalukan.

“Air….” Orin mengeluh, sesaat kemudian matanya yang sayu bertautan dengan lembut tatapan Tian, air yang disuapkan dengan sendok ke dalam mulutnya yang kering sama sejuknya dengan bening sepasang mata gadis itu. Dada Orin seakan mengombak, ia tak benar-benar sendiri, ia tak benar-benar kehilangan, ia tak sungguh-sungguh bernasib malang, ia berada di antara orang-orang yang mencinta. Lantas, apa lagi?

Samar-samar Orin seakan melihat bayangan Betani berputar-putar seakan gasing, bayangan itu semakin lama semakin kabur ditelan halimun. Sesaat Betani menoleh, melempar seulas senyum kemudian gadis itu berlari menerjang kabut, gaunnya yang putih berkibar laksana bendera raksasa dihempas angin di udara. Bayangan itu terus menjauh, menyatu bersama kabut dan akhirnya hilang ditelan warna. Orin merasakan nyeri di dada, rasa nyeri itu semakin menikam, semakin dalam, pemuda itu memejamkan mata rapat-rapat. Sementara waktu terus berputar, tak istirah karena seorang menjadi pasien di rumah sakit atau ada sepasang pengantin baru yang tengah masyuk berkasih-kasihan.

Waktu tak pernah henti berputar.

Orin menjalani perawatan intensif dari pihak rumah sakit dan keluarga, hingga ia kembali mendapatkan kesadaran. Makanan dan minuman bergizi yang disuapkan ke dalam mulutnya dengan kasih sayang oleh Malya memberinya kekuatan, dan ia –Orin– adalah pemuda dengan bakat khusus, ia mahasiswa cerdas serta penggemar serta pemain sepak bola yang handal. Ia telah berulang kali keluar dari kesulitan, ia menang, kini ia telah melewati saat-saat kritis, dan ia selamat. Ia mempelajari banyak hal, khususnya tentang kemandirian, bahwa tak ada sesuatu yang dapat diharap untuk menyelematkan kehidupan kecuali semangat hidup itu sendiri. Ia telah kehilangan Betani, janur kuning telah melengkung, ia tidak punya hak apa-apa lagi, kecuali bertegur sapa sebagai warga masyarakat yang saling mengenal. Akan tetapi, ia punya langit tak berwarna yang selalu menunggu segala keinginan untuk merubah langit itu berubah wujud seperti kemaunannya.

Orin masih memiliki hari esok, masa depan yang telah lama dipersiapkan dan tak bisa begitu saja diabaikan, kecuali ia telah benar-benar kehilangan kewarasan. Ia telah melewatkan sekian tahun di perantauan bagi selembar ijazah yang berfungsi melegitimasi kemampuannya di bidang akademis yang akan mengubah seluruh hidupnya. Suatu saat, setelah perjalanan sang waktu yang demikian panjang, segala kepahitan hari ini akan berubah menjadi kenangan, kematangan jiwa akan membuat ia dapat mengingat kembali dengan senyum.

Pemuda itu tengah menghirup udara segar yang mengalir melalui bingkai jendela, ia telah mendapatkan kembali kekuatan, ia telah terjungal dengan amat menyakitkan, ia membiarkan rasa sakit menggerogoti sekujur tubuh hingga ke titik yang paling mengerikan. Grafik alam secara natural bekerja, setelah garis penurunan yang demikian tajam hingga ke titik terendah, maka sedikit demi sedikit bentuk garis akan kembali meningkat menunggu titik keseimbangan. Orin memang menjadi lemah, tetapi ia tidak terlalu lemah untuk sekedar keluar dari persoalan. Betani tentu saja salah satu dari segala persoalan hidup yang harus dilewati.

Bukankah ia telah melewati semua ini?

Orin meneguk secangkir teh panas dan menikmati kehangatan menyusup hingga ke rongga dada. Ia telah dapat mandi dengan air hangat serta menikmati buah-buahan segar, pemuda itu sendiri di ruang rawat yang dipenuhi aneka makanan. Orin mencoba mengingat seluruh kronologi peristiwa yang mengantarnya menuju ke ruang ini. Penanggalan pada jam tangan menunjukkan tanggal 29, berarti telah 15 hari ia tergolek untuk kembali kepada kesadaran  memahami datangnya hari ini. Betani tak memerlukan kehadirannya atau sebuah tekanan membuat gadis itu tak mengijinkan ia datang dalam hidupnya. Jadi, untuk apa ia mesti bersusah payah bagi sebuah kebersamaan yang mustahil. Ia dapat meneruskan hidup tanpa Betani, bukankah hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk sekedar ditangisi. Ia masih ingin mengikuti kejuaran piala dunia untuk memperebutkan Davis Cup, ia masih ingin menikmati hiruk piruk perebutan piala Eropa, ia masih ingin menjadi idola di lapangan sepak bola disoraki gadis-gadis. Ia masih memiliki banyak keinginan yang membuat langit hidupnya berubah warna menjadi corak rupa yang cerah dan menggairahkan. Ia harus mengakhiri perawatan ini!

“Sudah lebih baik Orin?” Tian menyeruak masuk dari pintu meletakkan keranjang kecil berisi duku dan rambutan. Gadis itu mengenakan rok berwarna biru dengan blouse  berbunga-bunga kecil berlengan kupu-kupu, tata riasnya halus bersahaja selayaknya ia tengah berdiri di depan anak-anak TK. Tangannya yang lembut mengusap dahi Orin tanpa rikuh, seolah ia adalah perawat yang dapat menentukan dengan pasti kesembuhan pasien. Sekejab Orin terlena, ia tidak benar-benar terlempar pada suatu tempat yang asing, ada seorang gadis yang dengan tulus memberikan perhatian dan sopan santun. Orin bukan anak kecil, ia bahkan dapat dengan mudah makna tatapan mata Tian. Sejenak ketika keduanya bertatapan, Orin seakan merasa dirinya mengapung di antara lautan cahaya, dadanya bergetar, dan mendadak badannya terasa segar. Tanpa sadar pemuda itu tersenyum, sebuah reaksi yang membuat Tian menjadi yakin dengan tindakannya.

Ketika akhirnya Tian menyuapkan makanan ke mulut Orin, pemuda itu mandah saja, dan selanjutnya kesembuhan berlangsung dengan lebih cepat. Tian tetap mengunjungi Orin setelah pemuda itu diijinkan dokter kembali ke rumah, ketika Tian alpa Orin merasakan sesuatu yang hilang, iapun berbalik mengunjungi Tian, mula-mula kunjungan itu teramat jarang semakin lama semakin rutin dan menjadi kebiasaan. Ketika Orin harus kembali ke Makasar untuk menulis skripsi hubungan keduanya berlanjut dengan banyak cara, termasuk telepon, telegram, dan surat menyurat.

Tahun berselang, hubungan antara Orin dan Tian tetap terpelihara dengan baik. Ketika akhirnya tiba saat bagi Orin untuk wisuda, maka Tian diundang pula datang sebagai pendamping. Kedua orang tua Orin menjadi sadar perihal hubungan antara keduanya. Mereka sudah dewasa, sikap dan bahasa tubuh keduanya telah saling berbicara, bahwa antara Orin dan Tian benar saling membutuhkan dan tak terpisahkan. Mereka telah saling mengenal, bahkan sejak masa kanak-kanak, sungguhpun Orin telah merantau untuk menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi, tetapi pemuda itu tak memiliki tautan hati dengan gadis yang dijumpai di perantauan, ia bahkan kembali kepada sosok yang hadir pada jejak di masa lampau.

Sementara Tian ia merasa telah menuai hasil dari kesabarannya, berapa tahun ia harus menunggu hingga Orin menyadari, ia adalah satu-satunya wanita yang mencintai? Ia bahkan lupa mengukur panjang waktu, ia berbesar hati dengan harapan sebuah takdir bagi manusia beserta seluruh harapannya. Kini, Orin akan menjadi takdir baginya. Ia datang pada saat yang tepat ketika Orin ditimpa rasa sakit, karena kehilangan yang amat sangat, ia adalah penyelamat. Tian bukan kanak-kanak, ia mulai menyadari ketergantungan Orin akan kehadiran dirinya, dan ia adalah gadis yang baik. Tian memposisikan diri pada tempat yang tepat, sehingga kebersamaan dengan Orin tampak secara alami dan meyakinkan.

Seperti yang telah terjadi. Waktu tetap berputar dan akan tetap berputar.

Ketika akhirnya Orin menjadi yakin untuk mengajukan pinangan terhadap Tian, maka ingatan yang menyakitkan, karena kehilangan Betani sudah mulai menghilang. Seperti halnya manusia yang mempercayai kehendak Tuhan, maka Orin menyerah kepada takdir. Penyerahan itu lebih baik, karena ia memiliki alasan untuk berbesar hati, untuk merasa lebih berarti sekaligus bersyukur atas kehidupan yang telah dijalani. Sepenuhnya pemuda itu menyadari, bahwa sebagai mahluk hidup yang diciptakan secara berpasang pasangan, ia tidak bisa mengelak dari suatu jalinan khusus yang menyatukan dua manusia yang berbeda, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduanya saling membutuhkan.

Sore itu Orin dan Tian menapaki pasir putih, mereka membiarkan sepasang kakinya basah dijilati lidah ombak. Setiap sudut yang ada di pantai ini,  mungkin setiap jengkal tanahnya mereka seakan telah dapat menghapal. Ombak pesisir yang bergemuruh tiada henti adalah saksi terhadap perjalanan anak manusia, yang pernah mendekat, menjauh, berpisah kemudian bertautan kembali, hingga tangan mereka saling menggenggam bagi sebuah kesepakatan. Matahari semakin condong ke langit sebelah barat, bersiap menjelang batas cakrawala untuk membagikan sinar pada belahan bumi yang lainnya. Saat terindah ketika cahaya alam terpantul di batas ketinggian berlangsung sempurna, sinar surya tak lagi menyengat, sementara udara jernih dan angin sepoi berhembus serta hati yang berbunga-bunga seakan mengayun-ayun Tian menuju sorga loka. Akhirnya ia dapat menggapai Orin, Betani telah memasuki kehidupan rumah tangga, ia pasti seorang wanita baik-baik yang akan bertumpu pada kesepakatan hidup berkeluarga dari pada berandai-andai dan terjerumus ke dalam khayalan semu, karena cinta monyet di masa lalau. Adakah yang lebih berbahagia dari seorang gadis yang tengah jatuh cinta dan bersiap menuju bahtera keluarga.

“Hei lihat! Bukankah itu Betani dan Lambert!” tiba-tiba Tian memekik, sebelah tangannya tetap berada pada genggaman tangan Orin, sebelah lagi menunjuk dua sosok bayangan yang tengah duduk bercengkerama di bawah rindang pohon kelapa. Sejenak Orin menatap dua sosok bayangan itu tanpa ekspresi, ketika langkah Tian memburu sosok Betani dan Lambert, Orin tak dapat menolak. Ia tahu, Betani dan Tian tetap bersahabat.

“Beta! Apa kabar?! Lama tidak bertemu, padahal tempat kita tinggal sangatlah kecil. Ahaa…! engkau semakin cantik setelah menjadi ibu rumah tangga”, Tian segera menghamabur ke dalam pelukan Betani, seakan telah puluhan tahun kedua sahabat itu tak saling bersua.

Senyum Betani terkembang, sesaat keningnya berkerut ketika ia melihat kehadiran Orin, sudah berapa lama ia tak bersua dengan pemuda itu? Apa hubungan Tian dengan Orin, sehingga keduanya kini tampak seakan dua sijoli yang tengah dimabuk cinta dan tengah bersumpah untuk sehidup semati disaksikan ombak samudra? “Aih Tian, kabar baik tentunya, engkau tampak sangat sehat dan gembira”, Betani menjawab dengan keramahan yang wajar seperti apa adanya.

“Tahukah apa yang mebuatku gembira?” Tian bertanya kemudian ia membisikkan kata-kata ke telinga Betani. Sesaat kemudian keduanya terpekik dan tergelak-gelak, sehingga Orin dan Lambert saling berpandangan dengan keheran-heranan. Apa yang dikatakan Tian ke telinga Betani?

“Selamat selamat atas rencana pernikahan sahabat berdua, pasti kami akan datang meramaikan seluruh acara” Betani menjabat tangan Tian dan Orin, perempuan itu berusaha sedapat mungkin tersenyum, meski jauh di dalam hati ia merasa sungguh ganjil. Jadi setelah hampir setahun perkawinan, ia bahkan belum memiliki tanda-tanda bakal dikaruniai seorang anak, maka Orin sudah melupakan susah hati ketika ia harus memohon maaf bagi perkawinannya dengan Lambert. Akan tetapi, mengapa pula Orin harus terus mengingat perihal dirinya yang sudah nyata-nyata pergi dari kehidupannya? Apa yang salah, kalau akhirnya Orin memutuskan menikah dengan anggota geng masa remaja. Betani jadi teringat pada tatapan cemburu ketika Orin selalu memanjakan kehadirannya, agaknya Tian telah memendam rasa cinta demikian lama, setelah jauh perjalanan waktu akhirnya gadis itu berhasil mendapatkannya. Betani menghela napas panjang, tiba-tiba ia menjadi bingung, tiba-tiba ia merasa tersisih, karena pada khirnya dengan segala keasadaran Orin berhasil mengatasi duka hati setelah perpisahan sekaligus menentukan pilihan

“Engkau melamun Beta?” lembut suara Lambert berbisik di telinag Betani, menyadarkan perempuan itu dari lamunan.

“Suatu kejutan mereka akhirnya memutuskan menikah setelah sekian lama pertemanan”, Betani menjawab pasti, ia tak akan mengijinkan Lambert mengetahui seluruh isi hati.

Mereka masih bertukar kabar beberapa lama sampai akhirnya memutuskan untuk berpamit, dari kejauhan empat sosok manusia itu tampak sebagai siluet yang saling melambai, memisahkan diri dengan pasangan masing-masing. Langit masih seperti apa adanya, biru dan purba, sinar matahari semakin pucat, semakin padam hingga akhirnya hanya menyisakan berkas yang sia-sia menerangi isi dunia. Bayangan Orin dan Tian menjauh, menyepi di antara rumput alang-alang, suasana sepi menyebabkan keduanya semakin berani mengungkapkan gejolak hati.

***

Adat cuci kaki bagi upacara pernikahan Orin dan Tian akhirnya digelar dengan meriah. Tentu, Orin adalah anak saudagar terkaya di kampung itu. Adapun Tian adalah bunga mekar yang dipetik pada masanya dan mendapat restu dari seluruh warga. Perhelatan itu lebih meriah dari perkawinan Betani lebih setahun yang lalu, Orin terayun ke dalam alam mimpi saat menyaksikan sosok pengantin perempuan. Ia telah mengikuti suara hati untuk berikrar dalam kehidupan bersama, untuk berkasih-kasihan dan membangun kehidupan keluarga untuk jangka waktu yang tak ada batasnya.

Betani dan Lambert ada datang pada upacara cuci kaki, mereka tampak benar sebagai pasangan suami istri yang berbahagia, meskipun Betani belum ada tanda-tanda akan segera menggendong seorang bayi. Keduanya memberikan salam serta ucapan selamat, tersenyum kemudian duduk dengan santun melarutkan diri di dalam meriah suasana. Betani sengaja memasang jarak, ia sadar betul akan martabatnya, ia ta berhak berbuat lebih terhadap Orin kecuali sekedar tersenyum atau bertegur sapa. Di pihak lain, Orin merasa dadanya bergemuruh ketika menyadari kehadiran Betani, betapa ingin ia meraih perempuan itu ke dalam pelukannya, akan tetapi akal sehat menghalangi keinginannya. Orin sadar tanggung jawab seorang laki-laki yang bersiap mengikatkan diri ke dalam tali perkawinan, ia harus menghormati ikatan itu dengan membatasi hubungan dengan perempuan yang manapun, termasuk Betani. Orin tahu, ia akan selalu berperang melawan hawa napsu, perang yang amat dasyat, karena musuh itu ada di dalam dirinya sendiri.

Dengan perkawinan itu, maka baik Orin maupun Tian mulai menjalani kehidupan baru yang menuntut tanggung jawab dan kedewasaan. Pada prinsipnya hubungan perkawinan membuat masing-masing pihak bersikap dewasa, menerima kekurangan dan kelebihan pasangan hidup, menegur, menyesuaikan sekaligus memaafkan hingga maut memisahkan. Semakin hari keduanya semakin mengkristal sebagai bagian hidup dari masyarakat beserta segala tata cara, aturan serta norma yang lazim di dalamnya.

Akan halnya sebagai mahkluk beragama keluarga Orin yang muslim menyatu dalam kehidupan bermasyarakat dengan keluarga yang Islam juga yang Kristen. Agama Islam berkembang di Maluku dalam kurun waktu lebih satu milenium. Agama Kristen berkembang sejalan dengan kehadiran Portugis, kerukunan hidup beragama di kepulauan Maluku –antara penganut agama Islam dan Kristen– sudah berlangsung selama lima abad. Maluku seakan kepingan mozaik yang menyatu di dalam adat dan budaya, mengakar di antara pulau-pulau. Dari ketinggian pulau-pulau itu tampak seakan untaian zamrud khatulistiwa yang berserakan di atas sehelai kain beludru berwarna biru lazuardi.

Waktupun terus berputar, rutin dan pasti. Tak ada yang salah dengan sejarah dan kehidupan bersama antara umat Islam dan Kristen di Maluku. Akan tetapi, karena suatu sebab tragedi itu harus terjadi. Darahpun tertumpah!

***

Bersambung

Berikan Komentar Anda

Pos terkait