Puisi-Puisi Andy H. Makai

  • Whatsapp

Nadiku Bersuara Merdeka

Sebuah mantel berlumur darah

Bacaan Lainnya
banner 400x130

Ketika ada suara kami semua telah menatapnya

Berbagi duka yang agung, dalam kepedihan yang bertahun-tahun

Sebuah tirai berwarna merah putih membentengi Papua, membungkam asas kita

Di bawah terik matahari para pejuang kita berdiri

Mencari secerca asas antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja.

Akan mundurkah kita sekarang

Padamkan api revolusi, seraya mengucapkan β€˜Selamat tinggal para perjuang’

Biarlah kita berdiri, nyalakan api revolusi bersama peledaran darah

Berikrar setia kepada tirani sang kejora

Tulus mengenakan baju kebesaran, sang pelayannya?

Poster kumal itu, ya poster itu

Kami semua telah menatapmu, di atas bangunan-bangunan tua itu

Menunduk bendera setengah tiang,pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas di berbagai media

Tuan-tuan becak, kuli-kuli dermaga demokrasi

Teriakan-teriakan di atas bust kota,

Pawai-pawai perkasa semata prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata, Semuanya berkata

Lanjutkan perjuangan, tetap

One day will be fre west Papua

Jayapura, 5 mei 2019

Andy H. Makay

Nduga bukan Anak Sebatangkara

Seruan serta tangisan mewarnai bumi leluhur, canda dan tawa kini kian redup

Kicauan burung itoti kian menghilang di lemba Balyem

Hati merintih perih menusuk nadi, kesakitan mendalam

Kini hirupan udarah tak lagi bergizi

Suasana krimis deraian air mata membumi

Nahkoda bumi cendrawasih yang kian hari, hilang arah

Sayang oh, Sayang eeee…

Kemana kah Nahkodaku? Dimana kah Tuhanku?

Hulu aku ditindas Kini aku dibantai

Nahkoda dan tuan hanya menyaksikan nasib anak sebatangkara

Aku merintih memintah pertolongan, kau hiraukan semua keluahan-Ku

Tercerai berailah keluargaku, dirundun gelisa ketakutan

Kami hidup bersama intimidasi, tanpa asas demokrasi

Yang tersisa di rimbah cendarwasih hanya bekas kaki sudarahku

Berlari di kejar kabungan TNI, PORLI

Dedaunan pohon berubah dalam kedipan, bercoretkan tintah merah darah di tropis Nduga

Yang ku dengar di berantara hanya gemuruh tangisan yang merintih

Memanggil nama sudarahku yang ditembak di sana

Kini tangisan pilu masih terus mengiringi langkah kakiku

Terus ku langkahkan kaki step by step

Demi mencari kelegaan sosial bagi keluarga di Nduga yang berkulit gelap

Yang terselubung di balik kain Merah putih dari Jakarta

Namun, Sayang Percaya saja Tuhan tidak buta

Sayang, Nduga bukan anak sebatangkara

Yakinlah sayang, Nduga tidak sendiri

Papua untuk Nduga Tuhan bersama.

 Jayapura, 12 April 2019

Andy H. Makay

Perpisahan Mengundang Pilu Berkepanjangan

Hari kian larut kesunyiang mulai terlihat

senja mulai melukis sedih

agenda hari tertutup sekarat

sepi bernyanyi merdu

meriak muka air kolam jiwa menetes

Asrama Kasih Hagar kumeratap sunyi

Zaver menghilang dalam kedipan mata

Loncky Dan Linus juga ikut serta

jejak kalian tersapu kabut hitam, seakan ia menelan semua cerita

kesenduan membumi

aku seolah unggas tak beribu

hilang bertiga Yang kupunya

serasa bumi terombang ambing

sehari terasa setahun

menunggu ketiga busur pencitraanku

dimanakah waktu

dimanakah ruang untuk kusimpan pengharapan panjang

menunggu sambil susuri jalan meringkas waktu hingga hujan dan badai kubersahutan

suara suara malam yang berbeda telah membicarakan hal yang sama tentang serdadu rindu memenjarakan asa dalam perjumpaan

ihklas dari itu hujan ada redahnya

perjumpaan tak berundang undang

perjumpaan akan di rahmati Tuhan

bersama holandia kumenunggu pulangnya ketiga busur

kembali dan berkelana dalam SIDU

Jayapura, 21 April 2019

Andy H. Makay

Dia Bertopeng

Dirimu datang dalam senyumMu, kau sembunyikan jahatmu

Citramu memanah pandangan di balik topeng

Si Senja menghiasai suasana, mewarnai hentakan kakimu,

Berbunyi nyaring bernada suram menguyak jiwa.

Nyata kau mewarisi pedang bermata dua

Ending nyembeliku rapuh.

Selamat tinggal terpuruk

Pahitmu cukup kurasa

Indahmu cukup kucinta.

Jayapura, 3 Mei2019

Andy H. Makay

Berikan Komentar Anda

Pos terkait