Resensi Buku Pdt. Dr. Karel Phil Erari

  • Whatsapp
Pdt Socratez Sofyan Yoman (kiri) dan Pdt Karel Phil Erari setelah konferensi pers, Senin (15/12) di Gedung Oikoumene PGI, Jl Salemba no 10, Jakarta Pusat. (Foto: Bayu Probo)
Pdt Socratez Sofyan Yoman (kiri) dan Pdt Karel Phil Erari setelah konferensi pers, Senin (15/12) di Gedung Oikoumene PGI, Jl Salemba no 10, Jakarta Pusat. (Foto: Bayu Probo)

INDONESIA MENDUDUKI DAN MENJAJAH BANGSA WEST PAPUA SECARA ILEGAL DAN WEST PAPUA MENJADI BAGIAN DARI INDONESIA BUKAN KARENA PANCASILA DAN P4

 

Bacaan Lainnya

banner 400x130

(ikuti & nikmati ulasan resensi buku ini).

 

“…if you have education, if you have degrees, if you have knowledge-even if it’s about motor mechanics-for as long as you are alive, they can’t take it away from you” ( Christo Brand: Doing Life with Mandela, My Prisoner, My Friend: 2017:40). Terjemahan bebas: “… jika Anda memiliki pendidikan, jika Anda memiliki gelar, jika Anda memiliki pengetahuan – bahkan jika itu seperti mekanik motor – selama Anda masih hidup, mereka tidak dapat mengambilnya dari Anda “(Christo Brand: Bersahabat dengan Mandela, Tahanan Saya, Teman Saya: 2017: 40).

 

Oleh Dr. Socratez Yoman,MA

 

Penulis berusaha secara kritis meresensi buku Pdt. Dr. Karel Phil Erari yang berjudul: Yubileum Pembebasan Menuju Papua Baru: Lima Puluh Tahun Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua (26 Oktober 1956-26 Oktober 2006) dengan artikel berjudul: “Indonesia Menduduki Dan Menjajah Bangsa West Papua Secara Ilegal Dan West Papua Menjadi Bagian Dari Indonesia Bukan Karena Pancasila Dan P4.”

 

Para pembaca terhormat tentu saja terkejut melihat judul artikel yang dinilai tidak relevan dengan maksud, tujuan, arah serta visi buku ini. Penulis respek setiap penilaian dari setiap pembaca tentu menjiwai buku ini dengan multi perspektif dan penafsiran. Sebagai orang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sudah pasti Roh Kudus mengajarkan kita dengan kuasa dan cara yang unik diantara kita untuk membaca resensi buku ini.

 

Buku ini, saya pernah baca pada tanggal 12 Februari 2007 sekitar 13 tahun yang lalu. Sejak saya membaca buku ini, ada kalimat yang hidup dalam hidup saya dan ia terus bersuara kepada saya.

Saya yakin, kata-kata itu, Tuhan taruh dihati saya melalui karya salah satu teolog, rohaniawan da antropolog serta ilmuwan yang miliki rakyat dan bangsa West Papua sebagai pemberian Tuhan.

 

Pendeta Phil Erari dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya mampu mengungkapkan persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa West Papua dari waktu ke waktu dapat digambarkan dengan jelas, terang dan terukur.

 

Pendidikan dan ilmu pengetahuan yang memadai yang dimiliki Pendeta Karel Phil Erari benar-benar dipakai Tuhan dan menjadi mesin dan dinamo yang menggerakkan para pembaca melalui kuasa Roh Kudus.

 

Para pembaca yang mulia dan terhormat, saya membagi apa yang disampaikan Pdt. Erari dalam buku ini. Ikuti kutipan-kutipan mutiara dan juga kekejaman bangsa kolonial moderen Indonesia sebagai berikut.

 

“Papua sampai dengan awal tahun 1960 tergolong kawasan yang relatif sangat aman di Region Asia Tenggara dan Pasifik Barat Daya. Masih terjaga sikap dasar menghargai dan menghormati hak milik orang lain untuk tidak dirampas dan dicuri. Sepeda yang rusak di malam hari bisa ditinggalkan di jalan raya, untuk diambil keesokan harinya, tanpa khawatir diambil orang.

 

Ada rasa aman karena penghargaan dan penghormatan kepada orang lain. Pada zaman itu belum ada peristiwa di mana polisi dan tentara Belanda mengeluarkan satu butir peluru untuk membunuh rakyat di Papua. Rakyat merasa aman, terutama hak untuk hidup tanpa rasa takut terhadap polisi dan serdadu kolonial Belanda.” (hal.177).

 

Apa yang disampaikan Phil Erari dapat dikontraskan dengan pengalaman Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

 

” … pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian. Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” ( Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, 2020, hal. 593).

 

Pastor Frans menggambarkan tentang siapa sebenarnya Indonesia. “Wajah Indonesia dari semula wajah sebuah kuasa militer.” (hal. 594).

 

Phil Erari juga menggambarkan wajah Indonesia yang identik dengan kekerasan dan kejahatan serta kekacauan.

 

“Negeri ini yang sejak zaman dulu disebut Pulau Surga (Island of Paradise) telah berubah menjadi tanah tumpah darah ribuan rakyat yang terbunuh demi suatu perjuangan hak asasi menentukan masa depannya secara damai.” (hal. 180).

 

Karel Erari juga memandang bahwa operasi militer di Papua merupakan kepentingan naik pangkat para militer Indonesia setelah membunuh rakyat Papua.

 

“Banyak perwira tinggi TNI-Polri yang mendapat pangkat berbintang, setelah melewati operasi militer di hutan belantara Papua, karena berhasil membasmi rakyatnya sendiri.” (hal. 181).

Dalam buku ini, Erari menggambarkan watak dan perilaku aparat keamanan Indonesia di Papua sangat kejam, brutal dan primitif.

 

“Kehadiran aparat keamanan dan tindakan serta perlakuannya sering menyalahi prosedur standar, sehingga tergolong brutal dan primitif. Kasus pembunuhan dan pemaksaan makan daging manusia yang disate di Tor Sarmi, 1992, adalah contoh dari cara-cara primitif dari security approach di Papua.” (hal. 178).

 

Melalui buku ini, Pendeta Phil Erari menyampaikan kepada para pembaca, bahwa proses pengintegrasian atau penggabungan Papua ke dalam wilayah kolonial Indonesia penuh dengan berdarah-darah dari pihak rakyat Papua.

 

“Sejarah Integrasi Papua dalam Indonesia adalah suatu sejarah berdarah. Pelanggaran HAM yang diwarnai oleh pembunuhan kilat, penculikan, penghilangan, perkosaan, pembantaian, dan kecurigaan.” (hal. 167).

 

Erari dengan cermat dan juga tegas memberikan potret Status Quo kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan aparat TNI-POLRI sejak penggabungan Papua dalam wilayah kolonial Indonesia dalam buku ini.

 

“Papua, sejak berintegrasi dengan Indonesia, 1962 hingga hari ini terus diwarnai oleh sejumlah aksi kekerasan bersenjata. Kekerasan terhadap kemanusiaan di Tanah Papua, pada umumnya bernuansa politik, terutama yang melibatkan satuan aparat keamanan, baik itu polisi maupun militer. Rakyat yang tidak berdosa, yang dicurigai, dikejar, diintimidasi, diperkosa dan dibunuh.” (hal.26).

 

Melalui buku ini, Pendeta Sophie Patty, Wakil PGI yang pertama 1962-1969, dalam kata pengantar mengungkapkan kekecewaan sebagai pemimpin gereja.

 

“Orang Irian salah apa, sampai mereka dianiaya, disiksa dan dibunuh, TUHAN tidak sekejam itu. Pada tahun 1969 dilakukan Pepera di Papua. Hati saya terenguh sekali. Orang-orang bisa dipakai untuk apa saja, dengan tak mengingat sesamanya.” (hal. xxv, xxvi).

Erari dengan tepat mengatakan, bahwa saat ini seluruh rakyat Papua sudah sadar atas proses sejarah penggabungan yang cacat hukum dan moral. Rakyat Papua sudah bangkit dan sedang melakukan perlawanan dengan cara elegan dan bermartabat dalam berbagai forum dengan narasi-narasi dipomasi formal.

 

“Kesadaran sejarah di kalangan rakyat Papua sangat kuat bahwa ada masalah yang sangat serius dengan proses ‘kembalinya Irian ke pangkuan Ibu Pertiwi. Rakyat menemukan suatu pengalaman yang pahit bahwa di pangkuan Ibu Pertiwi itulah mereka dibantai dan diperkosa hak-hak dasarnya”.

 

Bahwa rakyat Papua yang telah mengalami suatu ketidakadilan sejarah, ketidakadilan hukum dan yang karenanya merupakan ketidakadilan kemanusiaan. Di sinilah terletaknya titik simpul yang terluka dari sebuah integrasi.

 

Masihkah orang Papua layak menjadi bagian dari sebuah Republik yang hanya menyebarkan ketidakadilan dan pelanggaran HAM bagi warga negaranya.” (hal.197-198).

 

Hampir sebagian besar rakyat, Gereja dan Pendeta Phil Erari mempunyai keyakinan yang sama berdasarkan fakta historis dan dinamika dalam realitas sekarang, bahwa kehadiran Indonesia di West Papua ialah ilegal.

 

“Bagi gereja dan bangsa Papua, kehadirannya dalam konteks NKRI, diwarnai oleh konflik dan masalah. Papua oleh banyak pengamat disebut sebagai provinsi bermasalah, mungkin karena awal kehadirannya “ilegal”, sehingga semua kebijakan selanjutnya penuh dengan masalah dan sebagaiannya ilegal, atau bertentangan dengan hukum dan keadilan.” (hal. 192).

 

Untuk mengatasi situasi yang brutal, kejam dan tidak manusiawi yang dilakukan penguasa Indonesia melalui kekuatan TNI-POLRI yang merendahkan martabat kemanusiaan yang digambarkan dalam buku ini, Phil Era menekankan bahwa peran gereja menjadi kunci sentral dan sangat penting untuk memperjuangkan keadilan, perdamaian dan kebenaran serta pembebasan rakyat dan bangsa West Papua.

 

“…pesan profetis agar Gereja tetap setia dan konsisten dalam memperjuangkan keadilan, kebenaran dan hak asasi manusia dalam rangka pembebasan dan perdamaian bagi seluruh orang Papua. …’Dekade Pembebasan’, sebagai komitmen dan janji di mana seluruh program Gereja di bidang kesaksian, menjadi kesaksian yang membebaskan; bidang pelayanan, menjadi pelayanan yang membebaskan; dan koinonia atau persekutuan, menjadi Koinonia yang membebaskan.” (hal. xxxiii).

 

Erari mempertegas posisi dan peran serta pertanggugjawaban dari Gereja untuk jaminan perlindungan dan harapan rakyat Papua dalam tugas pastoral.

 

“….dan gereja-gereja di Papua maupun di Indonesia memahami masalah Papua sebagai bagian dari tugas pastoralnya. Oleh karena itu secara hakiki, gereja berada di pihak rakyat yang berjuang untuk suatu pembaruan dan transformasi. Sehingga bilamana rakyat berjuang untuk sebuah kemerdekaan, yang bebas dari ketakutan, penindasan dan penjajahan, maka posisi gereja dituntut untuk bersuara secara kritis dan bertanggungjawab.” (hal. 175).

 

Konsistensi peran dan tanggungjawab Gereja Tuhan juga terlihat dari kesaksian Pdt. Dr. Siegfried Zoellner dalam buku: Bersatu Dalam Tuhan: GKI-TP 60 Tahun 1956-2016, sebagai berikut:

” Saya mengingat perkataan Ketua GKI yang pertama, Pdt. F.J.S. Rumainum: ..Kita sebagai gereja harus berada di samping orang-orang tersingkir, kalau tidak-pekerjaan kita sia-sia!” ( 2016:79).

Erari dengan yakin mengatakan: “Peran gereja menjadi sangat strategis dalam rangka mengawal panji-panji kemerdekaan, persatuan, keadilan dan perdamaian.” (hal. 198).

 

Pendeta Dr. Karel Phil Erari memberikan kesimpulan dalam buku ini sebagai berikut:

“Kilasan sejarah di atas hendak berbicara pada kita semua bahwa Gereja Kristen Injili di Tanah Papua sejak tahun 1961 menyatakan keberpihakannya kepada Dewan Gereja Indonesia (DGI: kini PGI) dan orang Kristen di Indonesia. Karena itu tidak pernah berpendapat bahwa orang Papua menjadi satu dengan Indonesia karena asas Pancasila atau P4. Pancasila dengan semua silanya tidak pernah menjadi tali pengikat orang Papua dalam NKRI. Papua menjadi bagian dari Indonesia karena Injil dan karena ada orang Kristen…” (hal. 299).

 

Akhir dari resensi buku sebagai warisan yang sangat berharga bagi rakyat dan bangsa West Papua, saya membagikan ada kisah seorang ibu hamil yang sangat menyedihkan dan menyentuh hati nurani kita semua akibat Operasi Indonesia Militer di Nduga sejak 2 Desember 2018-2020.

 

“Saya melahirkan anak di tengah hutan pada 4 Desember 2018. Banyak orang berpikir anak saya sudah meninggal. Ternyata anak saya masih bernafas. Anak saya sakit, susah bernafas dan batuk berdahak. Suhu di hutan sangat dingin, jadi waktu kami berjalan lagi, saya merasa anak bayi saya sudah tidak bergerak. Kami pikir dia sudah meninggal. Keluarga sudah menyerah. Ada keluarga minta saya buang anak saya karena dikira dia sudah mati.”

 

“Tetapi saya tetap mengasihi dan membawa anak saya. Ya, kalau benar meninggal, saya harus kuburkan anak saya dengan baik walaupun di hutan. Karena saya terus membawa bayi saya, saudara laki-laki saya membuat api dan memanaskan daun pohon, dan daun yang dipanaskan itu dia tempelkan pada seluruh tubuh bayi saya. Setelah saudara laki-laki tempelkan daun yang dipanaskan di api itu, bayi saya bernafas dan minum susu.”

 

“Kami ketakutan karena TNI terus menembak ke tempat persembunyian kami. Kami terus berjalan di hutan dan kami mencari gua yang bisa untuk kami bersembunyi. Jadi, saya baru tiba dari Kuyawagi, Kabupaten Lanny Jaya. Kami berada di Kuyawagi sejak awal bulan Desember 2018. Sebelum di Kuyawagi, kami tinggal di hutan tanpa makan makanan yang cukup selama beberapa minggu. Kami sangat susah dan menderita di atas tanah kami sendiri.” (Sumber: Suara Papua, 8 Juni 2019).

 

Para pembaca yang mulia, resensi buku ini Bersambung……….bagian 2. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

 

Ita Wakhu Purom, 24 Oktober 2020

 

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Baptist World Alliance (BWA

 

 

Berikan Komentar Anda

Pos terkait