A B U

  • Whatsapp
Abu - pixabay.com
Abu - pixabay.com

Realmente entiendes –Benarkah engkau mengerti? Bahwa kesombongan sama rapuh dengan rumah kardus, maka sepoi tiupan angin sudah cukup untuk merobohkan. Atau, serupa pijar kembang api, gemerlap sekejab, maka waktu pun tergesa membawa menuju lesap, tapi mengapa panas bara masih berkobar tak kunjung padam? Udara gerah melepuh, menghanguskan sayap kunang kunang menjadi abu, meniup segala ingatan menjadi debu. Masih kuhitung sisa jejakmu pengkhianat! Por quΓ© –Mengapa? Mengapa tak langsung mengabarkan, tapi lewat kesengajaan, kiranya bhatara kala tak juga berkuasa memadamkan, seakan unggun yang kian membesar, membumbung sengit ke batas langit. Bukankah segalanya hanya sementara? Di atas panggung, riuh sandiwara cuma persinggahan, berakhir diam, pucat pasi. Sunyi. Setiap gugur hari adalah satu langkah pasti menuju mati, Kota Hujan, 8 April 2021

Berikan Komentar Anda

Pos terkait