Kala Senja dibalik Perahu Tua

  • Whatsapp
Gambar Istimewah
Gambar Istimewah
Oleh ; Sesilius Kegou 
Setelah perahu kayu berlabuh melaut, hanya busa-busa air laut menjemput pasir pantai, pisahkan kotoran dan bening. Banyak kepiting lalu lalang bagai org gila, tanpa tujuan. Sementara mata air kecil keluar dari pasir pantai dibawah telapak kaki Kristina Wataha, tanpa sandal.
Air laut membasahi seluruh kaki berkulit agak putih hingga batas rok yang ia kenakan. Sementara Marten, berdiri di sampingnya, hendak jelaskan panorama teluk Sairera, Nabire.
“Banyak perahu sudah berabu sejak tadi. Dikala hari tiada angin, panas menggelegak tubuh,” Marten menunjuk arah perahu tua berlabuh jauh.
Kristina diam tanpa kata, hanya menelan liur yang ia kumur lama di mulut. Ventilasi bumi tak aksi gila, diam, ia bahkan bisu. Hanya dedaunan kelapa yang lambai seakan lepas keluh harian.
“Adakah sejarah yang lain?” tutur ramah gadis rambut tebal panjang tak pernah urus itu balik pandangi pria itu.
“Ia ada. Tapi bukan sejarah. Hanya hiasan drama cinta, antara Moses dan Maria. Mereka adalah dua pasangan serasi. Tapi akhirnya, Maria komitmen lain. Ia harus meninggalkan Moses.” Jelasnya, keluh kesah tak arah tentu dalam kepalanya.
Alunan lagu artis 80-an, Ida Laila, sudah terdengar di rumah tak jauh dari pantai. Lelaki tua, botak, panjang rambut duduk balik lepas-lepas rokok perhatikan tingkah si mungil dia itu.
“Ah, kenapa dengan Maria?” Kristina tak sabar. Ingain tahu cerita kisah asmarah.
“Maria, gadis pendiam. Tapi, tingkahnya mempesona dengan prinsipnya. Ia tak pikir masa depan bersama Moses. Saat Maria tinggalkan Moses, tak ada kabar, tanpa pamit. Ia sudah memilih nikah secepatnya dengan lelaki kaya di kampungnya, Womora,” beber Marten dengan sontak putus asa.
Sekarang Kristina tak senyum seperti tadi, air mata berlinang di lesung, hingga basahi tahi lalat samping hidung mancung kecilnya. Kelopak mata bertpuk cepat.
“Apa menurutmu, jika seperti ini?” Tanya lelaki Ororodo itu.
Gadis yang ia impikan itu diam. Balik memeluk Marten. Sementara beberapa anak muda bereskan jaring di perahu tua. Pria-pria itu balik arah mereka berpijak.
“Jika saya, sayang. Orang yang saya cintai adalah nomor satu di hatiku. Ia adalah calon sumaiku, calon bapaku, calon bapak dari anak2 kami. Dan ia adalah lelaki yang di sampingku, yaitu kamu,” jelas Kristina.
Pelukan hangat sudah terasa bahagia seluruh tubuh. Baju biru yang kenakan oleh Kristina sudah penuhi pasir akibat jatuh pingsang.
“Kau adalah suamiku di dunia maupun akhirat sayang. I Love You,” tandas Kristina setelah sadar berdiri.
“Dasar…! Cinta.”
Berikan Komentar Anda

Pos terkait