Kumpulan Puis Akapakabi Yeimo ; Kerinduan yang terpasung

  • Whatsapp
Akapakabi Yeimo -Doc Pribadi
Akapakabi Yeimo -Doc Pribadi

Kerinduan yang terpasung

 

Bacaan Lainnya
banner 400x130

Meski melodi kupetik, terkadang suara pun tidak sampai ke pelataran altar. entah dibawa siapa pergi. Seakan bumi ini bising dan tidak berpenghuni.

 

Ku bernyanyi dengan mimik wajah sinis sekalipun, aku akan benyanyi, melodikan kisah kaumku…

 

Mereka bahagia melodiku semakin hancur, aku akan terus memetik sinar, dalam kekelaman manusia bumi….

 

Ku bernyanyi bersaksi, meski kita takkan berjumpa di bumi yang fana. Ku bersaksi dalam lirik dan melodiku kepada Tuhan yang Ilahi…

 

Sebab ketika aku tak bermelodi, kumati, kau mati dan cinta kita mati Terhadap sesama yang dibangun dalam kecurangan….

 

Aku disini kamu disitu Merindu

Tentang kekuatan hati yang memberi,

Bukan tentang kepalsuan cinta mereka terhadap yang hina….

 

 

Akapakabi Yeimo

Mahikai, 14 Februari 2021

 

 

Orang Pedalaman

 

Orang pedalaman

Hidup damai penuh cinta

Orang Kota…

Hidup damai penuh curhat

Badaki,

 

dalam cermin orang kota

bedak penghalau kebebasan, keindahan

Untuk manusia berkehendak..

 

Amburadul,

Nilai ujian akhir dari mata

Orang orang kota

Untuk kesederhanaan

 

Kasar di kota,

adalah ujian bagi orang kota

Yang pandai berdamai di hadapan orang

Namun tidak dengan dirinya

 

Tak Tahu aturan adalah mindset

Kegelisahan batin orng kota

yang lama dibajak aturan

 

Hidup bebas,

Milik orang pedalaman

Di alam bebas

Keunggulan orang kota diuji

Dalam Kurungan tembok tembok

 

Karena,

Kebebasan, Kesederhanaan

Perdamaian, keadilan, kesetaraan

adalah keunggulan tertinggi Manusia

yang harus diuji dlm puisi ini

 

Akapakabi Yeimo

Mahikai, 26 Maret 2021

 

 

 

Vonis busuk di tengah pergulatan

 

Kau tatap pada jam yang salah.

Vonis membusuk Pada buah matoa,

Tanpa jaksa, hakim, saksi, orang tua

Mejah hijau menguning

hingga kemerah- merahaan

dan hitam pekat….

 

Telah kau tusuk dengan

Pedang tak berulang

Yang terbuat dari lubang tanpa isi

Sehunus sakit, meski tak menjerit

Kau senang, hati tentram

 

Sembari waktu bergulir

Buah Matoa mewangi ku belah dua

Poteretmu terpampang

dibalik kebaikan dan kemunafikan

 

Dari selembar daun buah matoa yang pasif

Pena di lengan kanan yang patah

Kunarasikan, sisa sisa kisah

dan vonis vonis pecundang

 

Vonis vonis pecundang

Mengamputasi tanpa ampun

Mimpi yang tak kelar kelar

Sungguh…. Kejam kau

Memvonis di tengah pergulatan

Anak anak pedalaman

 

Akapakabi Yeimo

Mahikai, 27/3/21

 

 

Memeluk mereka

 

Namun sulit menyadari,

Mengapa mereka harus dipeluk,

Dan bukan sekedar memeluk

 

terkadang anak-anak tidak perlu mandangmu, kemampuan intelektualmu. Kecerdasanmu, asal kampusmu…

 

Karena bersama mereka,

kebersamaan, tak hanya menjadi kata,

Cinta dan kasih tidak menjadi angan.

 

Mari Memeluk mereka dengan cinta

Memeluk mereka dengan sayang

Memeluk mereka dengan rasa keadilan

 

Terkadang kita tidak menyadari, bahwa kita tidak pernah hidup dulu, dan kita tidak akan hidup nanti

Karena mereka yang akan memadukan recehan kata kata dan merealisasikan dimasanya.

 

Bukan masa kita lagi…..

 

 

Mahkai, 20/2/2020)

Yeimo Akapakabi

 

 

Berikan Komentar Anda

Pos terkait