Saya Tidak Suka Menyebut Orang Pendatang di Papua

  • Whatsapp
Soleman Itlay -Sourch Facebook
Oleh : Soleman Itlay
Ini berawal dari cerita kawan, non Papua, yang saya lebih suka menyebutnya migran Papua. Dia ini dari NTT, Flores. Tapi dari kampung mana saya tidak tahu persis.
Lahir besar di tanah Papua dan punya hati untuk Papua. Sejak kecil dia bergaul dengan orang Papua. Tidur bangun, makan minum dan kemudian “mengabiskan diri” bagian dari orang Papua.
Kita yang kenal dia, tahu bahwa dia ini orang Flores yang beda dari yang lainnya. Karena dia ini punya hati untuk Papua, sampai menyangkal bahwa dirinya bukan dari sana, tapi dari Papua.
Dia sering ketemu orang yang kurang kenal dengannya. Dan mengaku tidak suka mendengar kalau dirinya disebut “pendatang”.
Dia merasa terhormat apabila disebut orang Papua, karena darahnya tumpah di Papua dan tali pusarnya dikubur di tanah Papua. Jelas itu sudah menyatu dengan ribuan darah dan tali pusar orang asli Papua.
Terlepas dari situ saya pikir di tempat lain. Bahwa kata itu sangat berbahaya. Dari cerita kawan ini saya merasa kalau kelak kata “pendatang” bisa membuat suasana di tanah Papua tidak baik-baik saja.
Ulasannya karena dia–kata “pendatang” itu bagi saya seperti api, kerikil, racun, benalu air. Silahkan baca 5 analogi daripada kata “pendatang” yang bisa berdampak buruk kelak:
1. Seperti Api.
Seperti api yang kalau disiram dan dinyalakan apinya pada musim kemarau dan angin cepat sekali menyala dan memakan banyak korban, seperti pohon, rumput, rumah dlsb.
Sifat api itu panas, mudah menyala, dan membumihanguskan apa saja–yang kering maupun basa. Dia bisa merusak komunikasi, menghancurkan hubungan persahabatan dan menimbulkan permusuhan serta konflik SARA.
Sekarang kita anggap sepele, tapi kelak bukan tidak mungkin, bahkan kata “pendatang” akan menjadi salah satu penyebab utama dalam peristiwa-peristiwa tertentu.
2 Seperti Kerikil
Selalu menganggu hati nurani dan kenyamanan. Seperti kerikil dalam sepatu, yang kalau tidak dikeluarkan selalu menganggu;
Atau duri atau pecahan yang tertanam dalam tubuh, selalu sakit, bikin luka bernanah, bengkak dan bakal kalau tidak dibersihkan dan dikeluarkan bisa menganggu aktivitas dan mengancam nyawa.
3. Seperti Racun
Seperti racun, yang orang taru lewat makanan, minuman, obat-obatan, tempat tidur, AC, tempat duduk dan lainnya. Walau nampak baik-baik saja, tidak ada apa-apa.
Tapi kalau terus konsumsi dan makan terus, tetap merenggang nyawa orang seketika atau dalam kurun waktu tertentu–mati secara halus, misterius badan tidak wajar.
4. Seperti Benalu
Seperti benalu itu. Walau dianggap tumbuhan yang kecil di tangkai atau batang pohon yang besar, tapi mampu mampu mengeringkan dan mematikan pohon besar pada waktu tertentu.
5. Seperti Air
Bahkan seperti air. Meskipun kita tutup dengan tanah, batu dan campuran material berlapis-lapis, kalau ada satu celah kecil, ia akan keluar, perlahan-lahan akan mengikis permukaan tanah sampai merubuhkan kekuatan apapun itu.
Air yang bukan hanya menyejukkan, membersikan dan membawa kedamaian. Tapi sebuah aliran yang mampu menimbulkan bencana dan malapetaka besar, entalah Tsunami, longsor dlsb.
————–
Istilah “pendatang” itu tidak baik–kurang tepat kalau kita jeli memaknai dan membayangkan dampaknya ke depan.
Karena itu bisa saja menjadi akar konflik, yang sekarang kita anggap biasa-biasa saja, tapi kelak akan berdampak buruk sekali.
Kalau ingin ciptakan kedamaian sejati disini, kita harus sepakat agar tidak menggunakan istilah itu. Sebaliknya, cari istilah yang lebih baik, universal dan mampu menjaga kedamaian di tanah Papua.
Barangkali dengan istilah yang sedikit lunak, ramah dan bersahabat. Semisal, migran Papua bagi mereka yang lahir besar di tanah Papua, yang punya hati besar dan siap mati hidup bersama orang pribumi Papua.
Berikan Komentar Anda

Pos terkait