Hantu Jawa Dalam Film Suanggi 

Screenshot

Oleh: Nomen Douw

 

Sebelum film Suanggi tayang di bioskop Indonesia, saya diskusi dengan Dom Dharmo (sutradara film Suanggi) Dia bilang, film ini satir seperti film Chost in Cell (Sutradara Joko Anwar) Saya pikir film Suanggi akan sedikit berisi dan berbeda dengan film horor Indonesia lainnya karena ada muatan sosial yang dipaksa masuk dalam film Suanggi yang katanya sama dengan film Chost in Cell.

 

Akan tetapi, setelah saya nonton film Suanggi, apa yang ada dalam film Suanggi ini? Film Suanggi hanya dipenuhi horor, tidak ada satir yang saya ketemu dalam film Suanggi seperti film Chost in Cell yang berusaha memasukkan hal lain walaupun gagal. Sepanjang film Suanggi mulai, saya tunggu bagian satir pada adegan dan dialog, tapi tidak kunjung muncul. Akhirnya, saya pikir, film Suanggi tidak berbeda dengan film horor Indonesia lainnya yang selama ini kita tonton.

 

Bacaan Lainnya

Menurut Dom Dharmo, semua yang bermain dalam film Suanggi adalah orang Papua karena latar cerita dan tempatnya di Papua, rupanya inipun tidak. Kita akan lihat dari dialek Papua dalam dialog yang dipakai, kita akan ketemu perbedaan yang aneh yang diucapkan. Film Suanggi dibuat sangat horor seperti hantu-hantu pada umumnya di Jawa, tapi umumnya mungkin sama sosok hantu yang harus digambarkan dalam film. Misalnya, Suanggi membunuh satu keluarga dengan sadis, ibu hamil dan anaknya dalam perut dimakan, suaminya dan anaknya juga ikut dimakan tanpa perlawanan adat yang dilakukan. Gambaran yang sadis.

 

Tapi Dom Dharmo benar bagian film fiksi. Dia bercerita film Suanggi dijadikan film fiksi karena cerita tentang Suanggi banyak versi di Papua, tapi ini ali-ali film Suanggi perlu diselamatkan dengan kata fiksi. Karena fiksi, apa saja bisa dilakukan dalam film untuk melengkapi sesuatu yang kurang. Film Suanggi ini dibuat di Pulau Doom dan Yefman di Papua Barat, soal tempat tidak masalah.

 

Saya tebak film Suanggi ini proyek lama yang cepat-cepat di selesaikan. Alm Chelo masih bermain menjadi dukun penjaga pulau. Saya tidak tahu di Papua ada dukun, dan saya tidak tahu juga maksud dari Pastor melakukan perlawanan pada Suanggi hingga Pastor tewas di tangan Suanggi dengan mudah, sebelumnya saya pikir dukun yang akan melawan Suanggi atas permintaan warga. Pendeta tidak mati dibunuh Suanggi, tapi dikejar Suanggi hingga lari babi, berhasil pergi dari pulau. Pastor dan Pendeta kuasanya terlihat lemah.

 

Pendeta dan Pastor, mungkin saja memperlihatkan suatu moralitas modern yang berkembang kini. Pemuka agama begitu lemah di mata Suanggi; gambaran umum yang memperlihatkan agama era modern yang sangat kompromi dengan hal-hal dunia hingga membuat imannya lemah dalam perlawanan pada kuasa gelap. Awalnya saya pikir dukun akan lawan Suanggi karena sudah banyak pembunuhan di kampung, tapi ceritanya tidak begitu, mungkin saja Pendeta atau Pastor pernah lawan Suanggi di dunia nyata.

 

Film Suanggi ini cocok untuk ditonton sebagai hiburan untuk semua usia, walaupun setelah menonton akan membuat kita berpikir karena ada beberapa hal yang berbeda dengan cerita tentang Suanggi yang kita sering dengar dari cerita orang di sekitar kita di Papua. Tentu saja banyak versi. Saya lihat namanya Suanggi, sosok hantunya kelihatannya dari Pulau Jawa; ini juga bisa dilihat dari makna politik kekuasaan yang sejauh ini sudah banyak yang berubah di Tanah Papua.

 

Maaf bro Dom Dharmo, ini hanya sebuah komentar sebagai apresiasi karya yang luar ini. Terima kasih sudah berani angkat nama Papua dalam karya anda yang saya pikir sukses menghadirkan produksi dan produser dari Papua.

Berikan Komentar Anda