Oleh : Alfonsa Wayap
Film dokumenter berjudul,”Tong Masih Ada Disini” yang disutradarai Yulika Anastasia Indarwati melalui filmnya tentang gambaran rantai ekonomi.
Film yang menyoroti potensi di daerah mulai dari Kabupaten Lani Jaya[Film Kopi] Wamena [Ketahanan Pangan],Provinsi Papua Pengunungan, Jayapura[ Potensi Pinang],Provinsi Papua dan Merauke[Penjual Sagu Batangan dari Pohon]Papua Selatan.
Film ini dirilis,Rabu,12 Agustus 2026, di halaman Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih,Jayapura, Papua. Menurut Yulika, film ini menyoroti soal ekonomi masyarakat di kampung-kampung. Film yang berdurasi sekitar 45 menit itu mendapat tanggapan apresiasi dan juga kritik dari pentonon.
Apresiasi datang dari Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua,Boni Asso. Ia melihat karya film tersebut dari sisi kreatifitas anak-anak muda yang telah menghasilkan sebuah film tentang perekonomian potensial.
Menurut Asso,“Diperlukan inovasi dari anak-anak muda di dunia perfilman. Sebab, tuntutan perkembangan dunia usaha terus berkembangan sejalan dengan persaingan ekonomi secara lokal,nasional dan global. Representasi potensi di masing-masing wilayah telah menceritakan kehidupan perekonomian itu sendiri.”
Dikatakan, bagian ini merupakan bentuk edukasi bagi generasi kini dan akan datang. Diharapkan, supaya tidak melupakan potensi secara individu maupun di lingkup masyarakat di daerah masing-masing.
Tidak saja pujian, kritikan dari kedua pentonton datanga dari penulis resensi buku dan film yang tergabung dalam komunitas Film Dokumenter Papuan Voices[Alfonsa] dan Maurids[pembuat film dan editing di Media Jubi.id].
Mengulik isi film dan konsep yang digagas dalam film Tong Masih Ada Di Sini. Yang menyajikan ketahanan pagan, ekonomi lokal dan masa depan Papua. Komoditas itu yang dianggap mengakar dalam budaya dan tradisi masyarakat asli Papua.
Kedunaya melihat sisi lainnya yang boleh dikata film perekonomian yang tidak utuh antara sin satu dan seterusnya. Seperti sisi akurasi narasi dan data minim riset pasar dan rantai pasok bahan pokok hingga pasar.
Tidak ada tokoh pembanding agar mempenguat narasi yang menyoroti peluang dan tantangan perekonomian di empat wilayah tersebut. Korelasi antara realita sosial ekonomi dan potensi yang ada kemudian diolah menjadi peluang ekonomis.
Film yang mencoba menggambarkan keterkaitan antara manusia dan lingkungan. Lingkungan yang mana? Misalnya cuplikan soal sagu di Merauke. Sementara hutan sekitar 2 juta hektare lebih dibabat habis. Diganti pangan lain berupa tebu. Lantas keberlanjutan perekonomian semacam apa yang ditawarkan?
Bersambung…..
Alfonsa Wayap adalah seorang jurnalis perempuan Papua tinggal di Jayapura
