Membudayakan Ulang Gerakan Literasi di Papua, Tobi Bagubau: Jangan Terjebak Sinisme

Aktivitas Lapak Baca di Timika Papua Tengah - Doc, Pribadai

MIMIKA, SASTRA PAPUA.COM  — Pegiat literasi di Kabupaten Mimika, Tobi Bagubau, menilai gerakan literasi tidak semestinya diukur hanya dari banyaknya kegiatan seminar, pelatihan, diskusi, atau kampanye membaca. Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari ekosistem yang dapat mendorong tumbuhnya budaya membaca di masyarakat.

Tobi mengatakan anggapan bahwa gerakan literasi hanya menghasilkan banyak pembicara, tetapi sedikit pembaca buku, merupakan pandangan yang terlalu menyederhanakan persoalan.

Menurut dia, seminar, pelatihan, diskusi, komunitas, perpustakaan, hingga kampanye membaca memiliki keterkaitan dalam membangun kebiasaan membaca.

“Literasi tidak pernah berdiri secara terisolasi. Literasi selalu membutuhkan perantara seperti guru, perpustakaan, komunitas, penerbit, hingga percakapan di ruang-ruang publik,” tulis Tobi dalam refleksinya mengenai gerakan literasi.

Ia menjelaskan, budaya membaca tidak muncul secara tiba-tiba. Kebiasaan tersebut tumbuh melalui proses sosial, ajakan, lingkungan, ketersediaan bahan bacaan, serta dukungan infrastruktur kebudayaan.

Karena itu, menurut Tobi, kegiatan literasi yang terlihat di ruang publik tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan atau kegagalan budaya membaca.

Bacaan Lainnya

“Membaca adalah proses kontemplatif yang paling minim publikasi. Tidak ada panggung megah, tidak ada dokumentasi visual yang dramatis, tidak ada sorak-sorai penonton,” katanya.

Ia menilai, anggapan bahwa masyarakat lebih banyak berbicara tentang literasi daripada membaca dapat muncul karena aktivitas membaca merupakan kegiatan yang bersifat personal dan tidak selalu terlihat di ruang publik.

Pegiat literasi sebagai jembatan

Tobi juga menyoroti keberadaan duta, relawan, komunitas, dan pegiat literasi yang selama ini menjadi bagian dari gerakan membaca di berbagai daerah.

Menurutnya, keberadaan mereka tidak semestinya dipandang sekadar sebagai simbol kegiatan. Di wilayah yang akses terhadap buku dan informasi masih terbatas, para pegiat literasi dapat berperan sebagai penghubung antara bahan bacaan dan masyarakat.

“Mereka bukan sekadar pemanis di permukaan, tetapi jembatan hidup yang menghubungkan masyarakat terpencil dengan dunia luar,” ujarnya.

Ia mempertanyakan bagaimana budaya membaca dapat tumbuh tanpa adanya pihak yang terlebih dahulu mengajak masyarakat berbicara tentang buku, membaca, menulis, dan pengetahuan.

Tobi juga menilai kritik terhadap maraknya seminar dan diskusi literasi perlu ditempatkan secara proporsional. Ia mengakui terdapat kegiatan yang berpotensi terjebak pada formalitas, seremonial, bahkan kepentingan administratif.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh gerakan literasi sebagai kegiatan yang tidak berdampak.

“Ruang-ruang diskusi itu lahir dan diperbanyak justru sebagai benteng darurat untuk memicu lahirnya kebiasaan baru di tengah masyarakat yang masih asing dengan buku,” katanya.

Literasi membutuhkan ekosistem

Tobi mengatakan persoalan budaya baca tidak dapat dilepaskan dari persoalan akses terhadap buku, perpustakaan, fasilitas pendidikan, komunitas, serta lingkungan sosial yang mendukung kegiatan membaca.

Karena itu, ia mendorong agar kritik terhadap gerakan literasi diarahkan pada upaya memperbaiki kualitas dan ekosistemnya, bukan menghentikan gerakannya.

“Gerakan literasi di Indonesia maupun Papua memang jauh dari sempurna. Ada kalanya ia dangkal, salah kelola, atau terjebak formalitas. Namun, menstempelnya sebagai gerakan yang keliru arah adalah kesimpulan yang terburu-buru,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pelatihan menulis yang kerap disebut sebagai kegiatan instan. Menurutnya, pelatihan semacam itu dapat menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang baru mulai belajar menulis.

Tobi berpandangan bahwa kemampuan menulis tetap membutuhkan proses panjang. Pelatihan hanya dapat menjadi pemantik awal sebelum seseorang membangun kebiasaan membaca, menulis, mengolah gagasan, dan mengembangkan kemampuan secara mandiri.

Membudayakan ulang gerakan literasi

Menurut Tobi, gerakan literasi membutuhkan navigasi ulang agar kegiatan yang dilakukan tidak berhenti pada acara dan dokumentasi. Kegiatan literasi perlu dihubungkan dengan akses terhadap buku, praktik membaca, produksi tulisan, serta ruang diskusi yang berkelanjutan.

“Pertanyaan krusialnya kini bukan lagi mengapa terlalu banyak orang membicarakan literasi, tetapi apa yang bakal terjadi jika tidak ada lagi orang yang sudi membicarakannya?” katanya.

Ia menilai percakapan publik tentang membaca tetap penting untuk menjaga kesadaran kolektif bahwa membaca merupakan bagian penting dalam pembangunan manusia dan kebudayaan.

Bagi Tobi, membangun budaya membaca bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan keterlibatan sekolah, komunitas, pemerintah, perpustakaan, keluarga, pegiat literasi, serta masyarakat secara luas.

“Tanpa dialog percakapan, membaca akan kehilangan ruh lalu perlahan lenyap dari ruang publik,” katanya.

Tobi Bagubau merupakan pegiat literasi di Kabupaten Mimika. Refleksinya tentang gerakan literasi tersebut mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada perdebatan mengenai banyak atau sedikitnya kegiatan literasi, tetapi melihat kembali hubungan antara wacana, akses buku, kegiatan membaca, dan perubahan budaya.

 

 

Berikan Komentar Anda