NABIRE, SASTRAPAPUA.ORG — Peringatan Hari Aksara Internasional di Tanah Papua tidak hanya dimaknai sebagai momentum membaca dan menulis, tetapi juga sebagai ruang untuk mendorong anak muda menghasilkan pengetahuan dan melakukan aksi nyata. Gagasan itu menjadi salah satu pokok diskusi yang dibawa Hengky Yeimo, Sekretaris Komunitas Sastra Papua (Ko’SaPa), dalam Diskusi Santai bertema “Anak Muda, Buku dan Aksi” yang digelar di Rumah Inspirasi Kebadabi, Selasa (8/9/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan John Gobai, Pemred Nadi Papua, sebagai narasumber bersama Hengky Yeimo, dengan Eva Yeimo sebagai moderator. Kegiatan berlangsung pukul 16.00–19.00 WIT. Kegiatan ini menempatkan anak muda, buku dan gerakan literasi sebagai tiga unsur yang saling berkaitan: membaca untuk memperoleh pengetahuan, menulis untuk menghasilkan gagasan, dan bergerak untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan masyarakat.
“Saya harap agar tiga unsur penting kerja seperti ini dapat dibangun dalam komunitas komunitas literasi ditengah masyarakat khususnya dikalangan muda orang Papua supaya membudayakan membaca menerapkan budaya tulusa dan membangun pengetahuan yang diproduksi oleh anak anak muda Papua itu sendiri,”kata lulusan Stikom Muhammadiyah Jayapura itu.
Yeimo mengatakan, hari aksa internasional ini bukan saja untuk kita mengenak berapa banyak jumlah orang putus sekolah, atau orang buta huruf dst.
“Kami harus hadir menjadi orang yang membawa solusi bukan membawa masalah dalam kehidupan sehari hari agar benar benar kegiatan seperti ini dapat diminati generasi muda Papua,” katanya.
Hengky: Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menulis
Dalam pandangan Hengky Yeimo, literasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Dalam tulisannya mengenai Ko’SaPa, ia menjelaskan bahwa literasi merupakan proses membangun kesadaran, identitas dan masa depan masyarakat Papua melalui membaca, menulis dan berdiskusi.
“Karena itu, anak muda tidak cukup hanya menjadi pembaca. Mereka perlu didorong menjadi penulis, pendokumentasi, peneliti, pencipta karya dan penggerak perubahan. Buku menjadi pintu masuk untuk memperluas pengetahuan, sementara tulisan menjadi sarana untuk menyimpan pengalaman dan pengetahuan masyarakat,”katanya.
Hengky juga menekankan pentingnya orang Papua menulis tentang dirinya sendiri. Gagasan tersebut terlihat dalam berbagai aktivitas Ko’SaPa yang selama ini mendorong pelatihan menulis, diskusi sastra, penerbitan buku, komunitas belajar dan kegiatan literasi di berbagai daerah.
“Untuk melawan buta aksara penting sekali untuk kita berkolaborasi membangun komunitas semakin banyak di tengah masyarakat Papua. Dengan demikian saya yakin kita bisa meminimalisir buta aksas mulai dari pinggiran kota kota sampai di kampung kampung di Tanah Papua atau sebaliknya,”katanya.
Anak Muda dan Cerita Papua
Menurut gagasan yang dibawa Hengky, anak muda Papua memiliki banyak cerita yang penting untuk ditulis dan didokumentasikan. Mulai dari sejarah kampung, cerita rakyat, bahasa daerah, pengalaman masyarakat, budaya, tokoh lokal hingga perubahan lingkungan.
“Menulis, dalam konteks ini, bukan hanya menghasilkan karya sastra. Menulis juga menjadi cara untuk menjaga ingatan masyarakat agar pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya,”katanya.
Arah tersebut sejalan dengan perkembangan terbaru Ko’SaPa. Pada 2026, komunitas tersebut menetapkan visi “Mengader anak-anak Papua dalam bidang kebudayaan dan literasi Papua”, sekaligus memperkuat jaringan di tujuh wilayah adat serta bidang kerja yang mencakup riset, penerbitan, literasi, pengembangan SDM dan media.
Dari Buku Menuju Aksi
Tema “Anak Muda, Buku dan Aksi” kemudian membawa diskusi pada pertanyaan yang lebih praktis: setelah membaca buku, apa yang dilakukan?
Bagi gerakan literasi yang dikembangkan Ko’SaPa, jawabannya bukan berhenti pada kegiatan membaca. Pengetahuan yang diperoleh perlu diolah menjadi gagasan, tulisan, dokumentasi dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut juga sejalan dengan pesan nasional pada Hari Aksara Internasional 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong agar literasi tidak lagi dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif, terus belajar dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan serta lingkungan.
Ko’SaPa dan Regenerasi Gerakan Literasi
Hengky saat ini menjabat sebagai Sekretaris Ko’SaPa setelah organisasi tersebut melakukan restrukturisasi pada Juli 2026. Mecky Tebai ditetapkan sebagai Koordinator Umum, sementara Musa Boma dan Hengky Yeimo menjadi sekretaris. Restrukturisasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kaderisasi dan menyiapkan generasi baru penggerak sastra, budaya dan literasi Papua.
Dengan demikian, peringatan Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk memperluas gerakan tersebut melalui keterlibatan anak muda. Bukan hanya mengajak mereka membaca buku, tetapi juga mendorong mereka menulis cerita dari lingkungan sendiri, mendokumentasikan kebudayaan dan membangun ruang belajar bersama.
Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari diskusi “Anak Muda, Buku dan Aksi” sederhana: membaca membuka wawasan, menulis meninggalkan jejak, dan aksi membuat pengetahuan memiliki dampak bagi masyarakat.
