Yohanes Gobai: Nabire Bisa Menjadi Pusat Literasi Papua

Pemred Nadi Papua Yohanes Gobai (kiri) dan Hengky Yeimo, Sekertaris Komunitas Sastra Papua (Kanan) saat memantik diskusi pada acara peringatan hari aksara Internasional di Rumah Baca Kebadaby, Jl. Baru, Nabire, Selasa (8/9). Foto: Meki Tebai untuk Nadi Papua

NABIRE, NADIPAPUA.COM—Nabire ke depan bisa menjadi pusat literasi Papua dan untuk Papua jika gerakan membaca dan menulis dibangun secara konsisten, terutama dengan melibatkan anak-anak dan generasi muda.

Hal itu disampaikan Pemimpin Redaksi Nadi Papua, Yohanes Gobai, saat berbicara dalam peringatan Hari Aksara Internasional di Rumah Baca Inspirasi Kebadabi, Jalan Baru, Karang, Nabire, Rabu, 9 September 2026.

Yohanes mengatakan, membaca merupakan hal penting bagi anak-anak muda, terutama mereka yang masih duduk di bangku SD, SMP dan SMA.

Ia mengatakan, perubahan besar tidak selalu datang dari orang-orang yang memiliki jabatan, berpakaian bagus atau memiliki kehidupan ekonomi yang kuat. Perubahan juga dapat lahir dari orang-orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tetapi tekun membaca, rajin belajar dan terus berusaha.

Ia mencontohkan kisah Luiz Inácio Lula da Silva, Presiden Brasil saat ini, sebagai salah satu gambaran bahwa seseorang dapat melewati berbagai keterbatasan melalui proses belajar dan perjuangan.

Menurut Yohanes, jika gerakan literasi ingin membangun kebudayaan baru, khususnya budaya membaca dan menulis, maka kebiasaan tersebut harus dilatih secara terus-menerus.

Bacaan Lainnya

“Kalau mau membangun budaya baru, terutama membiasakan membaca dan menulis, itu bisa terjadi kalau dibiasakan, konsisten dan punya semangat juang tinggi,” katanya.

Ia mengatakan, membaca dapat dimulai dari satu halaman setiap hari. Jika dilakukan secara konsisten, seseorang dapat menyelesaikan satu buku dalam seminggu atau bahkan lebih ketika sudah terbiasa membaca.

Begitu juga dengan menulis. Menurut Yohanes, menulis dapat dimulai dari 100 kata setiap hari. Jika dilakukan terus-menerus, dalam satu bulan seseorang sudah dapat melihat perkembangan kemampuan menulisnya.

“Dari 100 kata, kalau konsisten, satu bulan kemudian kita bisa merasakan kemajuannya. Satu hari kita bisa menulis panjang, bahkan lebih dari satu halaman kertas HVS,” ujarnya.

Yohanes mengatakan, kemampuan membaca dan menulis tersebut sangat dipengaruhi oleh dua hal. Pertama adalah internalisasi diri, yakni kemajuan kemambuan membaca dan berpengetahuan, juga semangat, niat dan komitmen seseorang. Kedua adalah lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berkembang.

Menurut dia, anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang kaya akan buku, memiliki rumah baca dan perpustakaan, serta terbiasa mengikuti diskusi akan memiliki pengalaman yang berbeda dengan anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan kebiasaan negatif.

“Lingkungan sangat menentukan. Kalau anak-anak tumbuh di lingkungan yang penuh buku, gerakan literasi dan diskusi, tentu karakter dan perilakunya berbeda,” katanya.

Dalam konteks itu, Yohanes melihat kehadiran Rumah Baca Inspirasi Kebadabi di Jalan Baru sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan dan budaya baru.

Ia mengatakan, Jalan Baru yang selama ini dikenal dengan berbagai persoalan kenakalan remaja tidak harus terus membawa cerita yang sama. Melalui gerakan membaca dan menulis, kawasan tersebut dapat melahirkan cerita baru bagi generasi berikutnya.

“Jalan Baru yang dikenal dengan kenakalan remaja itu bisa menjadi ceritera generasi kemarin. Generasi berikutnya bisa menceritakan dan menuliskan Jalan Baru sebagai cerita yang dulu,” ujarnya.

Menurut Yohanes, hal yang sama dapat terjadi dengan Nabire.

Nabire pernah dikenal sebagai kota singkong, kemudian berkembang dan dikenal sebagai kota jeruk. Dengan tumbuh dan menjamurnya gerakan literasi di kota ini, menurut dia, bukan tidak mungkin Nabire ke depan dikenal sebagai pusat literasi Papua.

“Tetapi dengan tumbuh, berkembang dan menjamurnya gerakan literasi di Kota Nabire, ke depan bisa saja Nabire menjadi pusat literasi Papua dan untuk Papua,” katanya.

Namun, menurut Yohanes, cita-cita tersebut tidak akan berjalan dengan sendirinya. Membangun gerakan literasi membutuhkan komitmen, semangat juang dan pengetahuan, terutama dari anak-anak muda yang menjadi penggerak.

Ia mengatakan, ketika seseorang memilih terlibat dalam gerakan tersebut dan menyatakan dirinya bersedia, maka ada konsekuensi yang harus dijalankan.

Waktu dan kesempatan untuk bermain-main atau melakukan hal-hal yang tidak menjadi prioritas harus dikurangi. Waktu yang ada perlu diarahkan untuk membangun gerakan, memperluasnya dan melakukan kaderisasi.

“Kalau sudah mengambil jalan ini dan mengatakan saya bersedia, konsekuensinya harus pangkas waktu dan kesempatan untuk bermain-main, untuk hal-hal yang tidak masuk dalam daftar prioritas. Waktu harus diberikan kepada pembangunan gerakan, perluasan dan kaderisasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, konsistensi menjadi kunci. Tanpa konsistensi, perubahan besar tidak akan terjadi.

Menurutnya, jika gerakan literasi tidak dijalankan secara konsisten, maka Jalan Baru akan tetap memiliki wajah yang sama seperti sebelumnya. Begitu juga dengan Nabire. Cita-cita menjadikan Nabire sebagai pusat literasi hanya akan menjadi cerita jika tidak diisi dengan kerja nyata.

“Cita-cita menjadikan kota ini sebagai pusat literasi akan menjadi cerita mati, cita-cita kosong tanpa diisi,” katanya.

Karena itu, Yohanes menyebut ada tiga hal yang harus dimiliki setiap orang yang bergerak dalam gerakan literasi, yakni komitmen, kecintaan atau semangat membaca dan menulis, serta daya juang yang tinggi.

Selain itu, para penggerak harus memiliki inisiatif untuk mencoba cara yang berbeda ketika cara yang digunakan sebelumnya menemui jalan buntu.

“Punya inisiatif untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda ketika cara yang satu menempuh jalan buntu,” ujarnya. ***

 

Sumber Berita  : https://nadipapua.com/post-yohanes-gobai-nabire-bisa-menjadi-pusat-literasi-papua-2250

Berikan Komentar Anda