NABIRE, SASTRA PAPUA.COM — Relawan Rumah Inspirasi Kebadabi mendapat pembekalan mengenai pengelolaan organisasi, pengembangan ide, penyusunan program kreativitas, hingga strategi menindaklanjuti setiap aksi komunitas. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Inspirasi Kebadabi, Jalan Baru Mapidoba, Sabtu, 19 September 2026.
Kegiatan ini diikuti tujuh mahasiswa dan pelajar yang menjadi bagian dari relawan Rumah Inspirasi Kebadabi. Materi pembekalan disampaikan oleh Hengky Yeimo, Sekretaris Komunitas Sastra Papua, yang mengajak para relawan melihat organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi sebagai ruang untuk belajar, menghasilkan gagasan, dan melakukan perubahan di lingkungan sekitar.
Dalam pemaparannya, Hengky menekankan pentingnya relawan memahami dasar-dasar pengelolaan organisasi. Menurutnya, sebuah komunitas membutuhkan pembagian peran yang jelas, komunikasi antaranggotanya, agenda kerja, dokumentasi, serta evaluasi agar setiap kegiatan tidak berhenti setelah acara selesai.
Ia juga mendorong para mahasiswa dan pelajar untuk mampu menemukan ide dari persoalan yang mereka temui sehari-hari. Ide, kata dia, tidak harus selalu berasal dari sesuatu yang besar. Persoalan pendidikan, minat baca, lingkungan, kebudayaan, kreativitas anak muda, hingga kehidupan masyarakat dapat menjadi sumber lahirnya sebuah program.
“Jangan menunggu program datang dari orang lain. Relawan harus belajar membaca keadaan, menemukan persoalan, kemudian mengubahnya menjadi ide dan program yang bisa dilakukan bersama,” ujar Hengky dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kreativitas dalam komunitas tidak cukup hanya menghasilkan kegiatan, tetapi harus memiliki tujuan dan manfaat yang jelas. Karena itu, setiap ide perlu diterjemahkan menjadi program sederhana, menentukan siapa yang terlibat, sasaran kegiatan, waktu pelaksanaan, kebutuhan sumber daya, serta indikator hasil yang ingin dicapai.
Hengky juga menekankan pentingnya tindak lanjut setelah aksi dilakukan. Sebuah kegiatan, menurutnya, tidak boleh berhenti pada dokumentasi atau laporan, tetapi harus melahirkan langkah berikutnya. Hasil evaluasi dari satu kegiatan dapat menjadi dasar untuk merancang kegiatan selanjutnya.
“Aksi hari ini harus melahirkan pertanyaan: setelah ini apa? Kalau kita sudah melakukan kegiatan membaca, misalnya, tindak lanjutnya bisa berupa pembentukan kelompok baca, penulisan, diskusi, atau kegiatan lain yang menjaga gerakan tetap hidup,” jelasnya.
Pembekalan tersebut sekaligus mendorong relawan Rumah Inspirasi Kebadabi membangun pola kerja sederhana: membaca persoalan, menemukan ide, menyusun program, melaksanakan aksi, mendokumentasikan, mengevaluasi, dan melakukan tindak lanjut.
Bagi para relawan, pola tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan Rumah Inspirasi Kebadabi sebagai ruang belajar yang tidak hanya menghadirkan kegiatan sesaat, tetapi mampu melahirkan kreativitas dan gerakan yang berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan diskusi bersama para peserta. Para mahasiswa dan pelajar didorong untuk mulai menyusun gagasan kegiatan yang dapat dilakukan di lingkungan Rumah Inspirasi Kebadabi, dengan memanfaatkan potensi dan kemampuan yang dimiliki para relawan.
Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas generasi muda agar mampu mengelola organisasi secara mandiri, mengembangkan ide kreatif, serta mengubah gagasan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
