Oleh : dr. Benyamin Lagowan
Pada tanggal 6 Oktober 2000 hingga hari ini, sudah akan genap 26 tahun berlalu. Sehari lagi kita akan masuk 6 Oktober 2026. Tanggal dan tahun tragis bagi seluruh Orang Wamena yang pernah hidup di tahun 2000 an ke atas.
Tahun yang telah menjadi catatan kelam menyejarah. Karena telah menyebabkan sekitar >30 warga tewas dalam konflik tsb dan juga puluhan-ratusan korban luka-luka.
—–
Ceritanya begini. Tahun 2000, saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar SD YPPK St. Stevanus Wouma di Wamena. Saat itu, dunia saya masih sederhana hanya seputar: rumah, kampung halaman (Yelter), kebun, hutan, sekolah, teman-teman bermain (sekampung maupun non Papua di sekitar misi) dan keluarga.
Saya belum memahami namanya politik. Saya hanya tahu bahwa orang-orang dewasa sering membicarakan keadaan Papua saat-saat itu. Nama Theys Hiyo Eluay dan Presidium Dewan Papua semakin sering terdengar. Di kampung, topik pembicaraan tentang Papua Merdeka juga semakin kuat dari waktu ke waktu.
Apalagi waktu itu hampir di seluruh wilayah Lembah Baliem, Wamena dibangun posko Satgas Papua Merdeka yang mana didepan posko berdiri tiang bendera dengan bendera bintang kejora yang berkibar bebas, gagah mengudara di langit biru. Posko di Wouma dibangun di sebelah jembatan. Tepatnya, saat ini bersebelahan dengan pos Brimob Wouma.
Semenjak posko Satgas Papua itu ada, kehidupan berubah dan berjalan sangat tertib dan disiplin. Masyarakat dilarang berkeliaran di atas jam 17.00-18.00 WIT. Bila ketahuan dihukum depan posko. Sampai-sampai banyak masyarakat sering kena hukum usai pulang dari kota terlalu larut. Selain itu, Satgas juga memberlakukan jam siaga, apel dan upacara bendera penuh disiplin semi militer.
Tapi bagi saya, semua itu hanyalah percakapan dan peristiwa orang dewasa. Dan sampailah pada pagi 6 Oktober 2000.
—
Situasi pagi di Wouma
Sejak subuh, suasana di Kampung Wouma sudah tampak berbeda. Tidak seperti biasanya. Banyak orang mulai berkumpul di sekitar lapangan sepak bola Wouma. Mereka membawa alat perang tradisional. Semakin lama, konsentrasi masa semakin bertambah.
Di SD Wouma yang berada tepat di hadapan lapangan tampak agak janggal. Kami, anak-anak sekolah yang biasanya bermain di halaman hingga lapangan sepak bola sebelum masuk kelas, justru diminta untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
Sekolah justeru diliburkan. Kami disuruh kembali ke rumah secepatnya. Saya tidak tahu mengapa. Tapi yang jelas ini terkait dengan isu akan adanya aksi demo ke dalam kota Wamena oleh masa yang sedang berkumpul di lapangan bola kaki itu.
Tidak lama kemudian terdengar kabar bahwa, seorang Haji yang berasal dari Jawa telah dibunuh di rumahnya di kios di sebelah Lapangan sepak bola, Wouma.
Orang-orang sudah mulai gelisah dan panik. Terutama anak-anak dan ibu-ibu serta lansia. Suara percakapan terdengar di mana-mana. Sebagian orang bergegas pulang usai menjemput anak-anak mereka. Yang lain berkumpul dan membicarakan apa yang sedang terjadi.
Saya hanya mengikuti orang-orang dewasa.
Hari itu adalah hari spesial bagi saya, karena baru saja dibelikan sepatu baru oleh mama. Sepatu itu masih sangat bagus. Saya senang sekali ketika pertama kali mendapatkannya. Saya membayangkan memakainya ke sekolah dan bermain bersama teman-teman.
Tetapi pagi itu tidak jadi sekolah. Tidak ada permainan. Kami justru harus bersiap meninggalkan rumah untuk mengungsi termasuk sampai harus lupa membawa sepatu baru itu, karena lupa dan ketinggalan.
—
Mengungsi.
Mama menyuruh kami mengambil barang-barang yang bisa dibawa, lalu dikumpulkan seadanya. Tidak banyak yang dapat kami bawa karena situasi sudah tidak dapat dihindarkan. Ada penyerangan dari masyarakat ke arah kota melewati jembatan Wouma.
Sementara suara rentetan tembakan dari arah kota Wamena diarahkan ke arah Wouma sepertinya untuk memukul mundur pergerakan masa dari Wouma ke kota.
Kami (saya, mama dan adik laki2) bersama keluarga sekampung kemudian bergerak meninggalkan Wouma. Rombongan pengungsi berjalan melewati muara Kali Ue, lalu menyebrang ke kali Baliem dan melewati pinggir kali Baliem menuju wilayah Pugima, ke sebuah tempat yang dikenal dengan nama “Wur Oba”.
Saya berjalan mengikuti keluarga dan orang-orang lain. Di sepanjang perjalanan, saya melihat banyak orang membawa barang seadanya. Ada yang menggendong anak kecil, ada yang menggandeng orang tua, dan ada yang berjalan sambil terus melihat ke belakang. Sambil menunduk dan berjalan sambil was-was penuh ketakutan dan kepanikan.
Saya masih terus ingat sepatu baru saya. Saya baru saja akan memakainya untuk pertama kali hari itu. Namun hal tsb tidak pernah terjadi. Sepatu tsb ketinggalan di rumah seorang paman, yang kebetulan jadi tempat berkumpul kami sebelum mengungsi. Yang mana sepatu itu keburu tertinggal karena situasi mendadak tegang dan kami diminta meninggalkan rumah kami dengan segera.
Sepatu yang seharusnya saya gunakan ke sekolah akhirnya tertinggal dan tidak pernah saya pakai seharipun.
Kami terus berjalan sampai tiba di daerah yang dirasa lebih aman. Dari sana, Wamena perlahan tertinggal di belakang dan jauh di dataran rendah di lembah yang luas dengan sesekali terdengar suara tembakan senjata api di mana-mana.
Kami pengungsi yang kebanyakan adalah anak-anak dan ibu-ibu berlarian ketika hendak memasuki wilayah Pugima ketika melihat dua pesawat pemburu memasuki Wamena dari wilayah Yalimo lalu berputar di arah Nduga.
Ada perasaan panik dan khawatir muncul ketika mendengar suara tembakan. Ada perasaan kekhawatiran soal bagimana nasib anak-anak lelaki, bapak-bapak yang ikut terlibat dalam masa di Wamena. Meski kebanyakan memilih untuk bertahan demi melindungi kampung dan rumah tercinta.
—
Malam yang Merah.
Malam hari, suasana menjadi semakin mencekam. Dari kejauhan terlihat cahaya dari nyalah api. Wamena sudah terbakar. Terutama di sekitar area Pasar Misi Wouma, api merah tampak jelas di tengah gelapnya malam membentuk garis lurus vertikal dari timur ke barat. Itu adalah pasar misi yang sedang terbakar dilayap si jago merah.
Orang-orang dewasa melihat dari jauh dibalik gunung “Wur Owa” khususnya para ibu yang sempat keluar dari tempat dimana kami mengungsi memandang ke kota. Saya ikut melihat, meskipun belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Tampak dari kejauhan rumah-rumah dan bangunan terbakar.
Suara-suara letupan senjata dari kejauhan sesekali terdengar. Tidak ada seorang pun yang berbicara dengan suara keras. Kami hanya menunggu dan mendengarkan.
Malam itu Wamena yang saya kenal berubah menjadi pemandangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya sepanjang sejarah bagi anak usia 7-8 tahunan seperti saya ini.
—
Hari-Hari Setelahnya.
Hari-hari berikutnya dipenuhi kabar tentang korban. Isu-isu mulai menyebar cepat. Dimana orang-orang berbicara tentang mereka yang meninggal, mereka yang terluka, dan mereka yang belum ditemukan.
Dalam ingatan masyarakat, puluhan orang menjadi korban jiwa dalam rangkaian kekerasan tersebut.
Situasi kemudian itu sudah tak bisa dikendalikan. Peristiwa yang kelak dikenal sebagai “Wamena Berdarah” ini juga diikuti tindakan represif aparat keamanan terhadap masyarakat sipil.
Tujuannya mengeksekusi instruksi agar bendera Bintang Kejora diturunkan secara paksa. Posko-posko dibongkar. Banyak orang ditangkap.
Di tengah situasi tersebut, beredar pula cerita tentang penangkapan dan penyiksaan terhadap masyarakat Baliem, terutama mereka yang disebut sebagai bagian dari Pasukan Penjaga Tanah Papua (PETAPA) yang berseragam hitam atau biru tua dengan baret hitam.
Bagi saya yang kala itu masih anak-anak, semua istilah itu sulit dipahami. Saya hanya melihat akibatnya. Banyak orang takut. Banyak keluarga meninggalkan kampung. Dan kehidupan yang sebelumnya berjalan biasa tiba-tiba berubah drastis. Wamena yang dulu aman, nyaman dan damai berubah menjadi kota yg mencekam, penuh kekerasan dan air mata.
—
Meninggalkan Wamena.
Beberapa hari setelah kejadian, saya diberangkatkan ke Jayapura. Saya masih terlalu kecil untuk memahami mengapa saya harus pergi. Yang saya tahu, saya akan meninggalkan Wamena dan bersekolah di tempat lain.
Saya kemudian tinggal bersama paman saya dan bersekolah di Jayapura selama tiga tahun, dari 2000 sampai 2003.
Di sana kehidupan sekolah kembali berjalan. Saya bertemu teman-teman baru. Saya belajar seperti anak-anak lainnya. Tetapi sesekali saya masih teringat kampung halaman saya, Wamena. Teringat kabar dan keadaan mama, adik, bapak serta keluarga besar yang lain.
Saya teringat rumah. Saya teringat Kampung Wouma. Saya teringat lapangan sepak bola yang biasanya sejak subuh hingga malam dipenuhi orang dan tempat kami bermain di waktu sore.
Dan saya teringat pula perjalanan melewati muara Kali Ue menuju Pugima. Yang paling mudah saya ingat justru barang kecil yang tak sempat saya bawa saat itu: sepatu baru. Sepatu yang baru dibelikan sebelum semuanya berubah.
—
6 Oktober
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mengingat kembali tanggal 6 Oktober 2000, ingatan saya tidak dimulai dari politik.
Ingatan saya dimulai dari pagi. Dari suasana Kampung Wouma. Dari sekolah yang tiba-tiba diliburkan. Dari kabar tentang seorang warga non Papua yang dibunuh di samping SD.
Dari orang-orang yang mulai mengungsi.
Dari perjalanan melewati Kali Ue. Lalu dari malam ketika saya melihat Wamena seperti kota yang terbakar. Saya masih seorang anak kelas 3 ketika semua itu terjadi.
Saya tidak mengerti semua persoalan yang sedang berlangsung di Papua pada waktu itu. Saya hanya mengalami dampaknya bersama keluarga dan masyarakat lainnya.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, peristiwa itu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dan bahkan semua orang yang pernah menjadi korban dari peristiwa memiluhkan tsb.
6 Oktober 2000 bukan sekadar sebuah tanggal. Bagi saya, itu adalah hari ketika masa kanak-kanak di Wamena berubah. Dan di antara begitu banyak kenangan tentang hari itu, saya masih mengingat sepasang sepatu baru yang tidak sempat saya bawa sebelum meninggalkan Wouma, Wamena untuk tiga tahun dipengungsian.



