Rantai Ekonomi Yang Tidak Berantai, Antara Harapan dan Tantangan Ekonomi Mikro Dari Hasil Alam (II)

Oleh: Alfonsa Wayap 

 

Lanjut….

Lantas keberlanjutan perekonomian semacam apa yang ditawarkan?

Sagu tumbuh secara alami di hutan[dusun tiap marga]. Apabila itu dikelola bersumber dari alam seperti sagu. Misalnya, atraksi menjual sagu dalam bentuk batangan di hargai Rp 300 ribu.  Dalam hal ini, konteks sagu di Merauke atau di sejumlah wilayah lain di Papua.

Sementara babatan hutan yang mencapai dua juta hektar lebih hutan  di Merauke ditebas habis dan digantikan dengan tanaman yang menghasilkan bioetanol[tebu]. Apakah bagian ini tidak dilihat sebagai ancaman bagi pelaku ekonomi kecil seperti yang digambarkan dalam film?

Bacaan Lainnya

Jika ditilik dari jenis sagu menentukan nilai jual di pasar. Misalnya, sagu warna merah dan putih. Kualitas pangkur dan menggunakan mesin berbeda harga di pasaran. Bukan sekedar transasksi rupiah lalu selesai di situ.

Ancaman besar sedang mengintai rantai pemasok sagu. Deforestasi hutan sagu yang masif. Berbanding terbalik dengan rantai ekonomi yang diharapkan pelaku ekonomi hari ini dan akan datang?  Sementara usia tumbuh dan tebang sagu hingga waktu produksi memakan waktu tanam 5-10 tahun. Jika ditebang dalam jumlah besar untuk dipasarkan apakah ada cadangan stok sagu di tengah masyarakat kampung?

Hal lain yang erat kaitannya dengan sistem kepemilikan sagu di Papua. Setiap marga memiliki dusun sagu di daerah asalnya. Tokoh dalam film sagu itu, Yakobus Yatmop, bukan marga penduduk asli Marind, Merauke. Apakah sagu ditebang oleh pemilik dusun? Atau dibeli dari tangan kedua?. Dalam cuplikan film, tiba-tiba batang sagu sudah ditarik melalui sungai. Awalnya, penonton mengira buaya yang sedang ditarik di arus air sungai berair kabur.

Misalnya, riset terkait deforestasi pohon sagu. Sebenarnya ada potensi lahan yang bisa digarap menjadi perkebunan sagu di Merauke. Sebab, sagu merupakan komoditas unggulan asli di beberapa wilayah di Papua.

Sementara, harga kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, garam dan lainnya, melejit melangit. Sementara, harganya tidak sebanding dengan harga jual hasil penjualan komoditas yang digambarkan. Maka film tersesbut bisa disebut,”Rantai Ekonomi yang Tak Berantai.”

Ancaman lainnya, dari beberapa wawancara penulis ketika di Wamena. Terkait penjualan harga kopi dari petani. Persaingan terjadi ketika ada penada dari luar yang mengambil dengan harga yang tinggi. Di situlah terjadi perbedaan harga beli di petani. Secara tidak langsung mempengaruhi harga beli petani lain.

Memang diakui pertanian kopi sebagai lumbung perekonomian yang dimaskud. Dalam cuplikan dua perempuan yang datang membawa kopi mereka dan menjual kepada Moses. Berlalu begitu saja. Momen itu baik sekali ketika ada diskusi, hasil penjualan kopi apakah sudah dapat memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok[sembako] dalam rumah ketika dibelanjakan di kios atau pasar. Senetara harga sembako dilwilayah Pegunungan tidak sebanding dengan harga jual hasil kebun petani di pasar. Harga sembako berbanding terbalik antara nilai jual dan beli.  Ibarat panggang jauh dari api.

Film yang bila disimak belum memunculkan cuplikan[gambaran umum] siklus perputaran rantai sirkulasi nyata di daerah. Dilain narasi narasi kopi di sana ada peluang dan tantangan nyata dalam lingkup sosial masyarakat.

Kondisi pasar masih belum memberi ruang kestabilan bagi perputaran ekonomi dari potensi sagu, kopi, ubi jalar, sayuran yang merupakan hasil bumi Papua. Belum benar-benar menyentuh kemandirian ekonomi masyarakat di kampung-kampung. Bukan sekedar nilai rupiahnya.

Ekonomi dan ekologi tidak bisa dipisahkan. Lingkungan hidup harus ditempatkan sebagai inti strategi pengembangan ekonomi di daerah.

Begitu juga ketika berbicara soal ketahanan pangan yang dimaksud sutradara. Ketahanan pangan, ketahanan energi dan pengendalian inflasi merupakan fondasi utama menjaga daya beli masyarakat. Meningkatkan kepercayaan dunia usaha, serta memperkuat daya saing ekonomi di daerah.

Disitulah yang menjadi kritik dari film tersebut. Ancaman perekonomian skala mikro pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan atau kata rantai pasok. Pentingnya sebuah riset tentang roda perputaran ekonomi. Pilihan narasumber pendukung lain akan menguatkan sudut pandang film ekonomi.

Pesan yang terlintas, penting sekali adalah kesadaran yang dibangun Moses Yigibalom dalam film kopi patut ditiru. Ia menyadari akan potensi kopi di kampungnya sejak,1985 telah dirintis orangtuanya. Satu pesannya,” Kembali ke kampung dan memulai dari apa yang ada di sana. Berproses bersama orangtua, masyarakat dan komunitas petani kopi di Lanny Jaya.

Menurut Moses,tanah telah memberikan kehidupan. Sekarang,bagaimana kita mengolahnya menjadi sumber uang. Manajemen yang paling utama dalam menjalankan usaha,apapun itu bentuknya adalah memanajemen diri. Mesti telaten,sabar mengikuti proses,tidak cepat merasa puas. Mulailah dari diri sendiri.

 

 

Alfonsa Wayap adalah seorang jurnalis perempuan Papua tinggal di Jayapura 

Berikan Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.