Oleh: Hengky Yeimo
Papua sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang kuat dalam tradisi budaya lisan. Nilai-nilai kehidupan, sejarah, pengetahuan lokal, hingga hukum adat diwariskan melalui cerita rakyat, mitos, nyanyian, simbol, dan praktik hidup sehari-hari. Dalam konteks ini, sastra bukanlah sesuatu yang asing, melainkan hadir dalam bentuk sastra lisan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Komunikasi tidak bergantung pada teks tertulis, tetapi pada relasi sosial, ingatan kolektif, dan pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kekayaan budaya ini sangat besar. Papua memiliki ratusan suku dan bahasa, yang masing-masing menyimpan cerita asal-usul, sistem nilai, dan pengetahuan adat yang unik. Tradisi lisan seperti dongeng, legenda, pantun, hingga nyanyian adat bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana utama pewarisan identitas dan kebijaksanaan lokal. Dengan demikian, budaya lisan bukanlah bentuk keterbelakangan, melainkan sistem pengetahuan yang hidup, kontekstual, dan relevan bagi masyarakatnya.
Namun, dalam arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, Papua menghadapi pergeseran budaya yang cukup tajam. Tanpa melalui proses penguatan budaya literasi (membaca dan menulis) secara memadai, sebagian masyarakat langsung memasuki budaya visual—budaya “nonton”. Media sosial, televisi, video pendek, dan platform digital kini menjadi konsumsi utama, bahkan sering menggantikan aktivitas membaca dan menulis sebagai sarana belajar.
Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh Suherman (2024), masyarakat yang maju umumnya berkembang melalui tahapan yang bersifat linear: dari pra-literasi, menuju literasi, dan kemudian post-literasi. Pada tahap post-literasi, masyarakat tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi juga berpikir kritis, memproduksi pengetahuan, serta mengelola informasi secara bijak.
Dalam konteks Papua, kondisi ini menunjukkan adanya “loncatan budaya” yang belum ideal. Banyak masyarakat masih berada pada tahap literasi dasar—bahkan sebagian masih menghadapi tantangan buta huruf—namun sudah terpapar kuat pada arus informasi visual. Akibatnya, budaya “nonton” menjadi lebih dominan dibanding budaya membaca dan menulis. Konsumsi informasi cenderung bersifat instan, sementara proses refleksi dan analisis menjadi terbatas.
Fenomena ini membawa sejumlah dampak penting. Pertama, melemahnya kemampuan berpikir kritis, khususnya di kalangan generasi muda. Kedua, meningkatnya ketergantungan pada informasi cepat yang belum tentu terverifikasi. Ketiga, berkurangnya minat membaca dan menulis sebagai aktivitas intelektual yang mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menghambat kemampuan masyarakat untuk bersaing dalam dunia yang semakin berbasis pengetahuan.
Meski demikian, budaya visual tidak harus dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, ia dapat menjadi peluang strategis jika dikelola dengan tepat. Media visual seperti film, video, dan konten digital dapat dijadikan pintu masuk untuk membangun literasi baru. Konten kreatif berbasis budaya lokal—seperti cerita rakyat, sejarah, dan nilai adat—dapat dikemas secara menarik untuk menjangkau generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Dalam konteks ini, peran komunitas literasi menjadi sangat penting. Komunitas Sastra Papua, misalnya, menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sarana untuk memahami dunia dan memperkenalkan Papua ke tingkat yang lebih luas. Melalui platform seperti www.sastrapapua.org
, berbagai karya, cerita rakyat, dan dokumentasi budaya telah dihimpun sebagai upaya menjaga sekaligus mengembangkan identitas Papua dalam bentuk tulisan.
Lebih jauh, Sastra Papua menunjukkan bahwa banyak cerita lokal—baik yang bersumber dari tradisi lisan maupun pengalaman hidup masyarakat—memiliki potensi besar untuk ditulis dan dipublikasikan. Tantangannya bukan pada kekurangan bahan, melainkan pada keterbatasan jumlah penulis dan ekosistem literasi yang belum kuat. Karena itu, upaya pelatihan menulis, diskusi sastra, dan dokumentasi budaya menjadi sangat penting untuk terus dikembangkan.
Oleh karena itu, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah membangun ekosistem literasi yang kontekstual dan inklusif di Papua. Literasi harus berangkat dari budaya lokal—dari cerita lisan, pengalaman hidup, dan identitas masyarakat itu sendiri. Peran keluarga, sekolah, gereja, dan komunitas sangat penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis sejak dini. Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan akses terhadap buku, perpustakaan, dan teknologi pendidikan yang merata hingga ke wilayah terpencil.
Pada akhirnya, Papua tidak boleh hanya menjadi konsumen budaya visual. Papua harus bergerak menjadi produsen pengetahuan—melalui tulisan, karya sastra, dan dokumentasi budaya. Perjalanan dari budaya lisan menuju literasi, lalu ke post-literasi, memang merupakan proses panjang yang membutuhkan komitmen bersama. Namun, dengan memadukan kekuatan budaya lisan dan penguatan literasi modern, Papua dapat melangkah maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Penulis adalah Koordinator Komunitas Sastra Papua Ko’SaPa tinggal di Nabire









