Oleh : Amiruddin Al Rahab
Begitu banyak berita duka dari Papua di 2025 ini. Paling tidak terjadi pembunuhan terhadap belasan orang para pendulang emas di pedalaman Yahukimo oleh kelompok bersenjata. TPN-OPM melalui jubirnya mengaku bahwa mereka pelakunya, dgn alasan para pendulang itu mata-mata aparat.
Tak berselang lama peristiwa mengejutkan kembali terjadi, Tentara dari Timop Habema menembak mati 18 orang, yang mereka sebut anggota TPN-OPM di wilayah Intan Jaya. Dalam hitungan hari TPN-OPM kembali menyatakan menembak mati 2 orang anggota polisi dari TimOp Cartenz.
Tentu saya sunguh berduka, atas jatuhnya korban jiwa dari pihak mana pun. Pada bulan2 belakangan ini, saya selalu sedih membaca berita, dan mendapat kabar langsung via wa dari kawan-kawan di Papua tentang rasa takut yang membiak. Rasa takut nan berkembang itu, tampak dari terjadinya arus pengungsian dari kampung yang dirasa tidak aman lagi, ke wilayah yang aman.
Selain aksi berbalas tembak yg merengut nyawa ini, juga terbuka ada tentara dan polisi mendagangkan senjata dan amunisinya ke kelompok-kelomok Oraganisasi Papua Merdeka (OPM). Polisi berhasil membongkar sindikat perdagangan senjata dan amunisi itu. Yang mnjd pertanyaan, mengapa hal itu selalu berulang.
Artinya, perkembangan keadaan di Papua sunguh memprihatikan. Tapi adakah pihak pemerintah atau elit politik yang benar-benar mau berupaya menghentikan aksi2 bersenjata yg mematikan itu?
Sepertinya demokrasi yg dimikmati orang di luar Papua, demokrasi yg sama tdk bisa dinikmati oleh warga di Papua. Dgn demikian 27 thn reformasi ini blm kunjung bisa mengubah wajah politik negara di Papua. Saya merasa, apa yg terjadi di Papua, terurama di wilayah pegunungan, tidak berbeda dari situasi di tahun akhir 1990an, ketika saya keliling ke beberapa daerah di Papua.
Buku ini, sesunguhnya catat2an saya saat melihat dan merasakan suasana Papua di tahun 2010-2020. Serta gagasan2 saya untuk mendorong perkembangan politik yang lebih damai, demokratis dan ramah HAM. Silakan baca, jika mau. Salam



