(Sebuah Esai dan Manifesto Literasi)
Oleh : Hengky Yeimo
Surat terbuka ini saya tujukan kepada perempuan di berbagai penjuru dunia, dan secara khusus kepada perempuan Papua yang telah menjadi pelopor dalam perjalanan panjang kemerdekaan Sastra Papua.
Selamat Hari Perempuan Internasional bagi kalian yang merayakan dan tidak sempat meryakan karena didera konflik, pengungsi, dan masalah lainnya.
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih melingkupi dunia literasi di Papua akses pendidikan, minimnya ruang baca, serta terbatasnya dokumentasi kebudayaan perempuan Papua justru tampil sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat. Mereka tidak hanya hadir sebagai pembaca, tetapi sebagai penulis, pencerita, pendidik, sekaligus penjaga warisan sastra.
Apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya layak diberikan kepada perempuan-perempuan tangguh yang telah mengambil peran penting dalam merawat, menulis, dan mendokumentasikan Sastra Papua. Melalui karya-karya berupa puisi, cerpen, novel, esai, serta tulisan opini di berbagai media, mereka menghadirkan suara Papua ke dalam ruang-ruang wacana nasional maupun global.
Lebih dari sekadar menghasilkan karya, perempuan Papua juga aktif membangun ekosistem literasi. Mereka membentuk kelas-kelas belajar, komunitas membaca, diskusi sastra, serta berbagai ruang kreatif yang mendorong generasi muda untuk menulis dan berpikir kritis. Di tengah stigma yang kerap melekat pada Papua sebagai daerah terbelakang, termiskin, dan termarginalkan, kerja-kerja literasi ini menjadi bentuk perlawanan kultural yang sangat penting.
Melalui tulisan dan dokumentasi sastra, perempuan Papua sesungguhnya sedang membangun fondasi bagi masa depan pengetahuan masyarakat Papua. Mereka membuktikan bahwa Papua tidak hanya dikenal melalui narasi konflik dan keterbelakangan, tetapi juga melalui kekayaan budaya, bahasa, dan tradisi sastra yang hidup di tengah masyarakatnya.
Dalam kajian sastra, dokumentasi memiliki peran yang sangat penting. Tanpa dokumentasi, banyak tradisi lisan akan hilang bersama waktu. Dalam konteks Papua, sastra lisan seperti mitos, legenda, cerita rakyat, nyanyian adat, dan kisah leluhur telah lama diwariskan secara turun-temurun. Perempuan sering menjadi tokoh sentral dalam proses pewarisan ini.
Di rumah-rumah sederhana, perempuan Papua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Mereka meninabobokan anak-anak dengan lagu-lagu dalam bahasa daerah. Mereka menceritakan kisah leluhur sebelum anak-anak tertidur. Mereka mengajarkan anak-anak mengenal alam Papua melalui gambar, cerita, dan nyanyian.
Praktik-praktik sederhana ini sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan sastra paling awal dan paling mendasar. Melalui proses tersebut, perempuan Papua tidak hanya membesarkan anak-anaknya, tetapi juga menanamkan identitas budaya, bahasa, dan imajinasi kolektif masyarakat Papua.
Dengan cara demikian, perempuan Papua sebenarnya telah melakukan kerja besar dalam sejarah sastra Papua: mereka menjaga keberlanjutan tradisi lisan sekaligus membuka jalan bagi lahirnya sastra tulis.
Dalam perkembangan sastra kontemporer Papua, berbagai karya mulai muncul sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan pengalaman masyarakat Papua. Karya-karya ini tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga menjadi arsip sosial yang mencatat sejarah, penderitaan, harapan, dan identitas masyarakat Papua.
Sejumlah peneliti seperti John Waromi dalam kajiannya tentang sastra lisan Papua menegaskan bahwa tradisi cerita rakyat dan nyanyian adat memiliki posisi penting dalam pembentukan identitas budaya masyarakat Papua. Sementara itu, pemikiran Benny Giay dalam berbagai tulisannya tentang identitas dan kebudayaan Papua menunjukkan bahwa kebudayaan, termasuk sastra, merupakan ruang penting bagi masyarakat Papua untuk menegaskan keberadaannya di tengah perubahan zaman.
Dengan demikian, sastra Papua tidak hanya dapat dipahami sebagai karya estetika semata. Sastra Papua juga merupakan ruang perjuangan identitas, ruang ingatan kolektif, dan ruang kebebasan untuk menyuarakan pengalaman masyarakat Papua.
Dalam konteks inilah peran perempuan Papua menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya menjadi penulis atau pelaku sastra, tetapi juga penjaga keberlanjutan kebudayaan.
Karena itu, kita perlu melihat perempuan Papua sebagai pelopor dalam kemerdekaan sastra Papua.
Kemerdekaan sastra yang dimaksud bukan sekadar kebebasan untuk menulis, tetapi juga kebebasan untuk menafsirkan pengalaman hidup masyarakat Papua dengan cara mereka sendiri. Kemerdekaan untuk menghadirkan suara Papua dalam bahasa dan imajinasi yang lahir dari tanah Papua itu sendiri.
Hari ini, ketika kita berbicara tentang masa depan literasi Papua, kita tidak bisa mengabaikan peran perempuan Papua. Mereka adalah penjaga cerita, penutur sejarah, pendidik generasi, sekaligus pencipta karya.
Tanpa perempuan Papua, banyak cerita akan hilang. Banyak bahasa akan sunyi. Banyak ingatan kolektif akan terputus.
Karena itu, sejarah sastra Papua pada masa depan harus mencatat satu hal dengan jelas: bahwa perempuan Papua adalah pelopor kemerdekaan sastra Papua.
Mereka menyalakan api literasi di rumah-rumah kecil, di kampung-kampung terpencil, di ruang-ruang diskusi sederhana, dan di halaman-halaman buku yang perlahan mulai ditulis oleh generasi baru Papua.
Dan selama api itu terus menyala, Sastra Papua tidak akan pernah padam.
Referensi Literatur Sastra Papua
Beberapa karya dan kajian yang dapat menjadi rujukan dalam memahami perkembangan sastra Papua antara lain:
Waromi, John. Sastra Lisan Papua.
Giay, Benny. Menuju Papua Baru: Beberapa Pokok Pikiran Sekitar Emansipasi Orang Papua.
Antologi Papua dalam Puisi Indonesia (editor Dorothea Rosa Herliany).
Kajian sastra dan kebudayaan Papua dalam jurnal-jurnal antropologi dan sastra Indonesia.
Tradisi sastra lisan Papua: mitos, legenda, cerita rakyat, nyanyian adat, dan kisah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
www.sastrapapua.org
Penulis adalah Koordinator Komunitas Sastra Papua (Ko’SaPa) tinggal di Nabire, Papua Tengah









