Bertemu Soeharto Di Kota Enagotadi Paniai

Salah seorang Pemuda di lapangan Soeharto di Paniai - Doc. Nomensen Douw

Paniai, Kosapa – Bertemu kembali Lapangan Soeharto di pusat kota Enagotadi Paniai. Seperti dulu waktu saya masih bocah berkaki telanjang, berdebu dan bertanah liat, warga Paniai masih menyebutnya, Lapangan Soeharto.

Kota Enagotadi Paniai, wilayah yang menurut seorang Pilot berkebangsaan Belanda “Wissel Meeren” [1938]. Setelah Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 menandai sejarah baru di Papua (West Papua). Papua akhirnya menjadi bagian dari NKRI kendati proses dan validitas hasil Pepera masih menjadi teka-teki. Papua telah menjadi Belanda dan masuk Indonesia melalui Pepera [1969].

Kota Enagotadi Paniai menjadi sejarah integrasi Papua. Ikut merasahkan Indonesia di era Pemimpin pertama hingga masa orde baru [orba] rezim otoriter Soeharto. Sejarah saya dapat menyebutkan, Soeharto bersama Ali Murtopo bermain agar Papua tetap dalam Indonesia dengan kepentingan asing di tanah Papua, sebelumnya berhasil menggulingkan Soekarno, presiden pertama Indonesia dengan berbagai dalil politik [G30SPKI].

Tod Jones dalam Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia (2015) mengungkapkan, Ali Moertopo adalah penasihat pribadi Soeharto selama tahun 1966-1974, terlibat banyak operasi rahasia, termasuk Pepera pada 1969.

Sekitar tahun 1998, saya masih boca kecil, umur empat tahun sampai enam, saya perna datang dari Idakebo Dogiyai ke Enagotadi Paniai, saya dengar nama Lapangan Soeharto dibicarakan warga Paniai, lapangan satu-satunya yang dulu dipakai sebagai upacara dan kegiatan olaraga lainya. Bagaimana cerita lapangan bernama Soeharto?, Apakah ada kaitanya dengan dinamika politik?, atau hanya simbol kedudukan rezim arba wilayah Paniai setelah Papua bergabung dengan Indonesia melalui hasil Pepera?

Enagotadi Paniai dari tahun 2001 terbentuk Kabupaten Paniai berdevinitif. Nama Soeharto muncul dengan nama lapangan utama di kota Enagotadi Paniai. Hingga saat ini namanya masih ada, warga Paniai masih akrap menyebutnya “Lapangan Soeharto “. Saya gagal ketemu sejarahnya tentang, Muncul tahun?, Siapa pemberi nama Lapangan Soeharto?, Apakah bupati pertama?, Tokoh adat atau tokoh Agama?. Tapi entah siapa pun yang memberi nama Lapangan Soeharto, tentu ada suara bisikan dari penguasa disertai skala politik.

Bacaan Lainnya

Satiap saya sampai di kota Enagotali Paniai, dalam dingin [24,6 derajat celcius dan rata-rata kelembaban udara 82,3%.]. Kadang saya berkelai dengan diri saya sendiri, pertama soal dingin yang minembus tulang dan yang kedua soal sejarah kota ini, saya ingin menulis tentang kota yang menurut informasi yang saya dapat dari teman-teman dekat. Saya suka terganggu dengan nama Lapangan Soeharto ketika warga menyebutnya “Lapangan Soeharto” Mungkin kegelisaan ini hanya memory passion.

Jumat pagi yang dingin, masih seperti dulu pertamakali saya kenali dingin, saya masih takut keluar pagi, tapi beberapa warga Paniai dan warga migran dari luar Papua sudah beraktivitas, buka kios, buka warung makan dan buka tempat togel. Saya tinggal di Madi, wilayah perkantoran Kabupaten Paniai. Saya dengan teman Frans pergi ke Enagotali [pusat pasar warga lokal dan migran] dengan kendaraan angkutan umum, tiga kilo meter dari Enagotadi-Madi, tarif angkutan umum 10 ribu/orang.

Kami berdua melintas di lapangan Soeharto, saya terganggu lagi dan berpikir “Lapangan Soeharto”. Beberapa kendaraan berparkir dan ada beberapa warga duduk berdisikusi. Ada yang berteriak dengan berulang, “Nabire-nabire”. Tidak jauh dari Lapangan Soeharto, Saya bertemu Amos depan kantor bank Papua. Teman yang suka saya memanggil om [keluarga dari mama saya].

“Lapangan Soeharto sudah ganti namakah?, ” Tanya saya kepada Amos, Pria kurus tinggi yang suka di panggil CRG [Christian Ronald Gobay], Dia pemain bola humoris yang warga sepak bola Nabire mengenalnya.

“Masih, ” Balas singkat Amos.

“Gawang sudah tidak adakah?, ” Tanya saya lagi kepada Amos walaupun saya tau.

“Soeharto sudah cabut, ” Balas Amos dengan serius tapi saya respon dengan ketawa. Amos ikut saya ketawa, sama-sama ketawa.

Duduk di cafe Nggabu Wissel Meeren setelah lintas Lapangan Soeharto. Cafe yang khas ini terletak depan Gereja Kristen Injili [GKI] jalan Frans Kaisepo Enagotadi Paniai. Cafe diantara toko migran, pemiliknya perempuan asli Papua asal Paniai. Kami disambut dengan lagu khas Wamena, rupanya petugas cafe; nona asal Wamena Nduga, cantik, Dia meracik kopi di gelas berbungga, mungkin kode alam tentang kasih sayang dan cinta. Saat Dia bawah cangkirnya, saya tersenyum tapi nona Wamena itu tidak lihat, saya jadi malu tapi tidak papa.

Jaringan wife akrif, noticed dari wastupp, facebook berbunyi seperti suara game, maklum dua hari non aktif. Saya ingin bercerita tentang Lapangan Soeharto tapi saya butuh sedikit cerita dari beberapa orang, saya hanya bertemu Amos, bertanya soal perkembangan olahraga dan Lapangan Soeharto tapi jawabanya, “Gawang Soeharto sudah cabut,” mungkin Amos ingin sampaikan kalau aktivitas sepak bola dan lapangan Soeharto sudah pergi bersama usia pemimpin otoriter itu, Soeharto, [1967-1998].

Saya coba search kepada mama Google, mumpun Internet kencang dengan wifenya di cafe, google mama kita seluruh dunia, “Lapangan Soharto Paniai Papua, ” Tanya saya kepada mama google. Jawabanya menyedihkan, Ia memberikan cerita berdarah yang perna terjadi di Paniai, empat remaja di tembak tentara Indonesia di Lapangan Soeharto [ 8 Desember 2014 ], seperti kerasnya masa orba dimasa presiden Soeharto, warga Paniai masih tertinggal luka, kebebasan seperti dibumkam oleh lapangan bernama Soeharto, seakan Soeharto masih ada dilapangan banyak orang besar takut.

Suara media dari mama google dari berbagai media nasional; Merdeka, Kompas, Liputan 6 dll, dalam beritanya ada nama Lapangan Soeharto, memberitakan kasus Paniai, empat remaja mati di lapangan soeharto. Proses pemulihan luka korban sepertinya masih disembunyikan oleh nama Lapangan Soeharto, seakan semua takut kepada nama Lapangan. Saya lagi serius mencari infomasi kepada mama google, tiba-tiba ada suara dari Amos.

“Lapangan Soeharto sekarang sudah jadi parkiran, “Ucap Amos kepada saya sambil Amos bermain game fruit burst dalam handphonenya.

“O.. Iokah, ” Kaget saya dengar tutur dadak Amos.

Tahun 1998an, saya ikut mama Gobay [almurhum] berjualan kacang tanah asal Mapia Dogiyai di Pasar Enagotadi Paniai, dulu pasar di depan bandar udara, “aweetako ena agapida/Yogotak hubuluk motok hanorogo” [esok pasti hari yang baik], moto pembangunan yang diletakan bupati Yanuarius Douw.

Saya ingat, dulu Lapangan Soeharto perna ada kompetisi [voli/sepakbola], saya ikut om [adik mama saya] dari Kampung Dagouto pergi bertanding dengan Kampung Aikai di laga final setelah berhasil mengalahkan beberapa kampung di wilayah Paniai.

Om mereka menang [lupa score], saya ikut waita [tanda perayaan bersama ala suku mee] angkat tropi piala menyeberang Kampung Dagouto dengan perahu traditional [belum ada speatboat selain samopa yang saya ingat]. Sampai di kampung, om mereka bakar batu; babi, ikan, nota dan sayur, merayakan kemenangan di halaman Sekolah [SD]. Igatan ini sepertinya, awal pertama om mengenalkan saya dengan sepak bola dan voli, tapi saya lebih suka sepak bola, saya lebih memilih bermain sepak bola dari kecil.

Soeharto masih ada di kota Enagotadi dalam nama bersama roh empat anak asli Paniai dalam kubur, seperti taman makam pahlawan kalibata yang diberikan nama Soeharto, kubur empat remaja yang mati ditembak. Kini sebagai lapangan terbuka untuk upacara, kampanye politik praktis dan panggung biru diujung lapangan menjadi podium para politikus lokal, mungkin Soeharto juga perna berpidato diacara meresmikan lapangan terbaru, Ia berikan namanya sebagai nama lapangan.

Sosok presiden kedua Indonesia; diktator yang murah senyum. Nama Soeharto yang ditakutkan warga Indonesia pada rezim orba termasuk warga Papua khususnya Paniai. Dalam cerita yang saya ketemu, ada operasi rahasia yang dilakukan rezim Soeharto melalui anabuahnya Ali Murtopo, mungkin perna ada operasi persuasif seperti yang dituliskan media tirto id.

“Untuk menarik hati rakyat Papua, Ali Moertopo menggunakan langkah persuasif. Salah satunya dengan mengirimkan sejumlah besar pasokan barang kebutuhan pokok dan hadiah-hadiah menarik untuk kepala-kepala suku dan masyarakat tanah Papua”

Apakah metode diatas dilakukan Soeharto bersama antek-anteknya sehingga pemimpin daerah di wilayah Paniai pada waktu itu melihat sosok Soeharto sebagai pemimpin yang lebih baik dari presiden proklamator Soekarno, atau sebuah hadiah dari pembantu Soeharto karena sukses melaksanakan opsus untuk memengaruhi hasil Pepera 1969 di wilayah meepago.

Enagotadi Paniai pada tahun 1966an perlawanan lebih hebat dengan melancarkan gerakan bersenjata serta terang-terangan menolak bergabung ke Indonesia. Perlawanan dipimpin A.R. Wamafma, Senen Mote, Maphia Mote, dan Thomas Douw.

Bagaimana nama pemimpin otoriter ini namanya diabadikan, tapi soal operasi militer di Papua, kedua presiden sama saja untuk orang Papua; Setelah sukses melengserkan Sukarno pada 1966, Soeharto melanjutkan operasi militer di Papua. Menurut kalian bagimana dengan nama Lapangan Soeharto?

[Reflensi: tirto.id, jubi.com, wikipedia]

Berikan Komentar Anda

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.